ReviewCinema

Review: The Ministry of Ungentlemanly Warfare, Saat Pembangkang yang Cerdas Beraksi

99
×

Review: The Ministry of Ungentlemanly Warfare, Saat Pembangkang yang Cerdas Beraksi

Share this article

The Ministry of Ungentlemanly Warfare berdasarkan kisah nyata yang terjadi antara militer Inggris melalui Operasi Postmaster dengan Nazi Jerman yang terjadi di penghujung Perang Dunia II.

LASAK.iD – Cukup sering dijumpai di layar bioskop, di mana rumah produksi yang mengadaptasi peristiwa Perang Dunia II (PD II) sebagai latar cerita filmnya. Baik itu sekedar terinspirasi sehingga menjadikan filmnya sebuah kaya fiksi atau sebaliknya, produksi yang memang secara utuh menggambarkan setiap inci kejadian ke dalam produksi audio visual.

Cangkupan kisah tentang peristiwa Perang Dunia II yang sangat luas dan kompleks, rumah produksi biasanya akan mengambil bagian kecil sebagai fokus cerita, entah pada sosok tokoh atau mungkin tempat, biasanya sebuah kota. Seringnya pun film dengan latar Perang Dunia II dengan tampilan yang serius.

Hal ini mungkin dilakukan dengan tujuan tetap menjaga rasa empati dan simpati dari penonton dari gambaran yang didapatkan sejarah tertulis ke dalam sebuah audio visual. Jika itu adalah sebuah adaptasi penuh tentu konsistensi dalam menjaga empati dan simpati memang diperlukan, dengan kata lain sejarah bukan hal untuk dibecandakan.

Meski begitu, tak melulu rumah produksi atau film makers membuatnya dengan serius, beberapa ditemukan mengemasnya dengan sedikit meregangkan otot. Seperti yang dilakukan Black Bear dan Lionsgate untuk film  terbarunya berjudul The Ministry of Ungentlemanly Warfare.

Di bawah komando Guy Ritchie sebagai sutradara dan deretan penulis seperti Paul Tamasy, Guy Ritchie, Eric Johnson, Arash Amel dan Damien Lewis, film The Ministry of Ungentlemanly Warfare membawa tampilan berbeda di antara deretan film berlatar Perang Dunia II.

Pengalaman melihat adegan berdarah dan baku tembak tentu wajib ada di setiap film perang, bedanya jika menonton film seperti Saving Private Ryan (1998) hingga Dunkirk (2017) suguhan seperti baku tembak, darah hingga mayat membawa memori kesedihan dan kepedihan yang mengerikan akan kekejaman di masa Perang Dunia II.

Nyaris sepanjang film senyum tipis di bibir tidak tampak karena tidak adanya suguhan bumbu komedi yang disisipkan. Seakan tidak ingin menonton ulang saking banyaknya adegan yang membuat bulu kuduk berdiri. Sedangkan, The Ministry of Ungentlemanly Warfare membawa dimensi lain atau cukup bertolak belakang dengan adegan serupa.

Penonton justru menunggu-nunggu bahkan bersorak untuk setiap karakter, terutama Anders Lassen yang diperankan Alan Ritchson melakukan aksinya dengan senjata andalan, yaitu panah hingga pisau. Bahkan adegan terakhirnya dengan kapak yang seharusnya mengerikan untuk penonton justru membuat penonton bersemangat dan kembali bersorak.

Tak hanya itu, tak lagi membawa keseriusan yang sepenuhnya menampilkan suasana yang menegangkan, banyak adegan yang dilakoni justru selalu berhasil hadirkan tawa di penonton. Entah itu sekedar dialog maupun gesture dari para karakternya. Terutama adegan yang melibatkan kelima karakternya, Gus March-Phillipps, Anders Lassen, Freddy Alvarez, Geoffrey Appleyard dan Graham Hayes. Bahkan adegan fight dengan senjata api, pisau, bom atau panah pun mampu membuat tawa.

Terkait adegan fight pun terasa berbeda, sutradara Guy Ritchie membuatnya terlihat santai dibandingkan dengan film serupa. Jika di banyak film perang jelas sekali setiap prajurit mengikuti SOP ketika berperang dari memegang senjata hingga melakukan penyergapan. Lagi-lagi, film The Ministry of Ungentlemanly Warfare melakukannya dengan berbeda, yang justru memperlihatkan gesture yang terlihat santai bahkan wajah penuh tekanan pun tidak diperlihatkan pada kelima karakter utamanya.

Poin yang mungkin sedikit kurang dari The Ministry of Ungentlemanly Warfare terpecahnya persepsi penonton akan cerita sejarah sebagai latar ceritanya. Bukan sengaja dihilangkan tetapi film satu ini membuat validasi dalam menelaah setiap inci sejarah yang dimaksudkan dalam ceritanya, dengan kata kunci Nazi, Operasi Postmaster juga U-boat sedikit hilang.

Untuk penonton tertentu hanya pada titik menikmati adegan per adegan, sedikit mengenyampingkan validasi sejarah dari fakta tertulis ke dalam produksi audio visual, yaitu film. Sedangkan, pada film serupa hal tersebut sangat dirasakan, misalnya pada film Pearl Harbor, fakta yang tertulis kemudian di aplikasikan ke film cukup mewakili.

Bahkan bagaimana ratusan bahkan ribuan orang yang dituliskan gugur karena terjebak di dalam kapal cukup tervalidasi oleh penonton. Rasa semacam ini yang sedikit hilang saat menikmati film The Ministry of Ungentlemanly WarfareSekali lagi, bukan juga menghilangkan nilai sejarah dari peristiwa yang dimaksudkan dalam cerita filmnya.

Terlepas dari positif dan negatif atau lebih dan kurangnya, film The Ministry of Ungentlemanly Warfare menjadi salah satu film rekomendasi untuk film dengan genre action comedy war. Setiap inci maupu, setiap adegannya, seperti adegan fight maupun adegan ledakan sangat sayang untuk terlewatkan.

Sinopsis

Film dengan judul The Ministry of Ungentlemanly Warfare kali ini pun mengambil peristiwa yang terjadi di akhir Perang Dunia II, tepatnya sekitar tahun 1941. Saat itu, Inggris sedang berjuang untuk menghentikan upaya Nazi Jerman untuk mengambil alih Eropa. Terutama serangan yang dilakukan Luftwaffe di kota London, Inggris.

Mendesak militer Inggris untuk berbuat sesuatu kepada Nazi Jerman, di bawah komando Brigadir Colin Gubbins (Cary Elwes) dengan dukungan dari Perdana Menteri Winston Churchill (Rory Kinnear) merekrut sekelompok kecil tentara berketerampilan tinggi untuk menyerang pasukan Jerman di belakang garis musuh dalam operasi hitam yang dikenal dengan Operasi Postmaster.

March-Phillipps (Henry Cavill) memimpin pasukan tersebut bersama empat rekrutan terbaik dibidangnya, yaitu Anders Lassen (Alan Ritchson), Freddy Alvarez (Henry Golding), Geoffrey Appleyard (Alex Pettyfer) dan Graham Hayes (Hero Fiennes Tiffin). March-Phillipps dan rekan-rekannya dibantu 2 agen khusus di darat, Marjorie Stewart (Eiza Gonzales) dan Richard Heron (Bab Olusanmokun) yang memberikan segala informasi mengenai Nazi di Pulau Fernando Po.

Rencana tersebut untuk menyabotase dan mengganggu U-boat Nazi, kapal selam perang milik Jerman yang mengganggu jalur perdagangan, salah satunya negara Inggris. Itulah, Operasi Postmaster dilakukan untuk menghancurkan kapal pemasok U-boat bernama Duchessa d’Aosta dan dua kapal penyerta yang dipimpin oleh Komando SS Heinrich Luhr (Til Schweiger).

Rencana hampir tidak terealisasi saat keberangkatan dari Duchessa d’Aosta lebih cepat dari perkiraan, namun March-Phillipps yang terkenal mahir tetapi juga semberono tetap melanjutkan dengan memotong jalur, dengan resiko ditangkap oleh militer Inggris. Hal tersebut tak terjadi dan sampai di Pulau Canary walau hanya menggunakan kapal pukat ikan Swedia yang netral, Maid of Honor.

Hal tak terduga kembali terjadi, ketika informasi terbaru bahwa kapal Duchessa d’Aosta telah memperkuat lambung kapalnya untuk tahan terhadap ledakan. Tim sempat putus asa bahkan diminta untuk membatalkan misi, namun Gus March-Phillipps dan tim yang dikenal sebagai pembangkang pada akhirnya mengabaikan perintah dengan mengubah strategi.

Tidak lagi menghancurkan tetapi mencuri Duchessa d’Aosta dan membawanya ke lautan lepas untuk diserahkan kepada armada Inggris. Rencana dadakan yang ternyata berhasil dengan bantuan dari Kambili Kalu (Danny Sapani) dan pasukannya yang menguasai sebagian besar dari Pulau Canary.

Duchessa d’Aosta berhasil dibawa kepada armada Inggris di luar Lagos, namun hukuman tidak terelakan untuk Gus March-Phillipps dan keempat rekannya serta dua agen lainnya karena Operasi Postmaster. Di sela menunggu untuk diadili di pengadilan militer, mereka justru diselamatkan dan direkrut oleh Churchill sebagai bagian dari The Ministry of Ungentlemanly Warfare.

Kontribusi Gus March-Phillipps, Anders Lassen, Freddy Alvarez, Geoffrey Appleyard dan Graham Hayes juga Marjorie Stewart dan Richard Heron dalam Operasi Postmaster membuat mereka mendapatkan penghargaan tertinggi dari militer Inggris. Sekaligus menempatkan mereka dan Operasi Postmaster dalam sejarah Inggris di penghujung Perang Dunia II.

 

Production company: Black Bear, Jerry Bruckheimer Films, Toff Guy Films, Red Sea Film Fund, C2 Motion Picture Group, Media Capital Technologies, Plus Studio
Distributor: Lionsgate
Cast: Henry Cavill (Gustavus Henry March-Phillipps), Alan Ritchson (Anders Lassen), Henry Golding (Freddy Alvarez), Rory Kinnear (Winston Churchill), Alex Pettyfer (John Geoffrey Appleyard), Eiza Gonzales (Marjorie Stewart), Babs Olusanmokun (Richard Heron), Cary Elwes (Brigadier Colin McVean Gubbins), Hero Fiennes Tiffin (Graham Hayes), Freddie Fox (Ian Fleming), Til Schweiger (Heinrich Luhr), etc
Director: Guy Ritchie
Screenwriter: Paul Tamasy, Guy Ritchie, Eric Johnson, Arash Amel, Damien Lewis
Producers: Dave Caplan, Jason Cloth, Iain Farmer
Duration: 2 hours

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x