ReviewCinema

Review: The Holdovers, Drama Sederhana Yang Menarik

163
×

Review: The Holdovers, Drama Sederhana Yang Menarik

Share this article

The Holdovers sebuah film yang mengangkat isu kesehatan mental yang ditampilkan sederhana tanpa konflik dan penyelesaian yang dramatis.

LASAK.iD – Belakangan layar bioskop lebih banyak menyuguhkan genre film yang menawarkan rasa takut, ngeri juga perasaan deg-dengan dari film bergenre, seperti horror, thriller hingga action. Genre film yang cukup banyak menawarkan adegan penuh darah, teriakan dan melarikan diri.

Ada juga film drama yang membuat penontonnya berpikir sedikit lebih keras karena kompleksitas konflik dari cerita yang ditawarkan. Padahal penonton pun butuh tontonan ringan dengan eksekusi sederhana dari sutradara, namun penulis pun tidak membuat isi ceritanya biasa saja.

Sesuatu yang ditawarkan sutradara Alexander Payne bersama penulis David Hemingson dalam film berjudul The Holdovers. Sebuah film sederhana yang berlatarkan tahun 1970 di sebuah sekolah khusus laki-laki di amerika bernama Barton Academy. Film yang dibuat se-realitas mungkin dengan kehidupan asli, tentang menjalani kehidupan sehari-hari dengan permasalahan yang selalu mengikuti.

Angkat isu kesehatan mental

Dibalik penyajian yang sederhana dari film The Holdovers, sebenarnya dengan tegas menggambarkan tentang isu kesehatan yang erat kaitannya dengan mental seseorang. Isu yang menjadi konflik sekaligus benang merah dari cerita filmnya yang digambarkan melalui para karakter dari lintas generasi dan gender (laki-laki dan perempuan).

Berfokus pada tiga karakter utama, Paul Hunham (Paul Giamatti), Angus Tully (Dominic Sessa) dan Mary Lamb (Da’Vine Joy Randolph). Secara garis besarnya ketiga karakter memiliki kesamaan tentang depresi yang diderita, dipicu melalui konflik masing-masing sebagai karakter.

Pada karakter Paul Hunham, depresi yang didapatkan dipicu kesendirian dan ketakutan karena sebuah diagnosa sebuah penyakit membuat dirinya memiliki aroma tidak mengenakan untuk orang sekitar. Hal yang membuatnya sulit untuk bersosial dan memilih dalam kesendirian.

Ada juga karakter Angus Tully, remaja yang kehilangan peran seorang ayah. Kesepian yang membuatnya sulit memiliki sosial yang baik walau sekedar ingin orang melihat keberadaannya. Ditambah merasa terbuang setelah ibunya menikah lagi dan telah nyaman dengan kehidupan barunya.

Sedangkan karakter lainnya, Mary Lamb harus menjadi sosok orang tua tunggal sejak usia muda, tetapi setelahnya harus menerima kenyataan kehilangan putra satu-satunya saat bertugas sebagai bagian dari kesatuan militer. Memilih untuk menghabiskan waktu dengan kenangan bersama anaknya ketika masih bersekolah di Barton Academy.

Sajian cerita yang related

Sajian yang sederhana dari filmnya justru membawa penonton melihat visual nyata seperti di kehidupan asli. Sutradara representasikan secara audio visual tanpa harus mendramatisir konflik, namun membuat ceritanya mengalir secara natural. Terlihat dari dialog yang dilakukan antar pemainnya.

Gambaran karakter yang tidak juga dilebih-lebihkan, tidak memaksa mengikuti arus atau sekedar mengikuti imajinasi liar dari seorang sutradara dalam merepresentasikan cerita ke dalam audio visual.

Salah satu gambaran adegan ketika karakter Paul Hunham mengajar untuk kelas sejarah, di mana para siswa menunjukkan sikap ketidaksukaannya. Bukan juga dengan tindakan yang provokatif tetapi hanya menunjukkan mimik kekecewaan. Adegan lainnya pun dilakukan tanpa harus membuatnya terlalu dramatis.

Sutradara dan penulis seakan ingin menciptakan tontonan yang bisa dinikmati penonton tanpa harus membuat berpikir keras atau jengkel. Lebih sebagai bahan pembelajaran yang mudah ditangkap akan pesan yang disampaikan film secara keseluruhan atau dari masing-masing karakternya.

Bergaya klasik

Ini juga yang mungkin jadi pertimbangan filmnya mengambil latar tahun 1970-an. Gaya pembelajaran klasik dengan pendekatan secara personal tergambarkan sekali dalam filmnya. Selain menekankan kembali buku sebagai jendela dunia, diketahui pada masa itu belum berkembang teknologi internet yang membuat tingkat literasi menjadi metode efektif dalam ilmu pengetahuan dan informasi.

Cukup banyak adegan yang menekankan akan hal ini. Saat karakter Paul Hunham cukup sering membaca buku bahkan di berbagai kesempatan akan mengunjungi langsung toko buku. Atau untuk kaitannya dengan pendekatan personal ketika satu sama lain berbicara empat mata untuk meluapkan sedih, marah dan sakit dalam diri masing-masing. Hanya sekedar mendengarkan tanpa harus saling menghakimi.

Hal yang jelas sekali menggambarkan betapa klasiknya film ini adalah pakaian yang dikenakan. Pakaian dominan pada warna kalem seperti coklat dan warna lain seperti biru muda. Begitu pun dengan gaya rambut, kendaraan serta warna filmnya yang lebih kepada warna kuning dan terkadang terlihat palet warna kecoklatan (lebih muda).

The Holdovers tidak bercerita dengan kompleksitas yang rumit namun dengan secara sederhana. Tidak juga menyajikan sebuah penyelesaian masalah dengan klimaks yang dramatis, tetapi penyelesaian yang seperti apa adanya. Bukan klimaks untuk mencari sebuah pembenaran tetapi sebuah kebenaran.

Konsep yang mungkin untuk sebagian penikmat film ini akan memberi kesan membosankan, karena penyelesaian konflik dengan klimaks tidak seperti kebanyakan film drama. Tidak juga memperlihatkan sisi antagonis yang biasanya selalu tergambar tidak berperasaan. Film ini justru menunjukkan kembali karakter bisa menjadi dua sisi berbeda, yaitu protagonis dan antagonis.

Production company: Miramax, Gran Via
Distributor: Focus Features
Cast: Paul Giamatti (Paul Hunham), Dominic Sessa (Angus Tully), Da’Vine Joy Randolph (Mary Lamb), Carrie Preston (Miss Lydia Crane), Brady Hepner (Teddy Kountze), Ian Dolley (Alex Ollerman), Jim Kaplan (Ye-Joon Park), Michael Provost (Jason Smith), Andrew Garman (Dr. Hardy Woodrup), Naheem Garcia (Danny), etc
Director: Alexander Payne
Screenwriter: David Hemingson
Producers: Mark Johnson, Bill Block, David Hemingson
Duration2 hours 13 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
is puravive fake
1 month ago

This page is incredible. The brilliant information reveals the administrator’s interest. I’m awestruck and envision further such mind blowing material.

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x