Review

Review The East: Film Berlatar Kisah Pilu Indonesia Pasca Kemerdekaan

49
×

Review The East: Film Berlatar Kisah Pilu Indonesia Pasca Kemerdekaan

Share this article

LASAK.iDThe East atau De Oost dalam bahasa Belanda merupakan film produksi Belanda yang merupakan based on true event. Seperti judulnya The East, film garapan sutradara Jim Taihuttu ini merujuk pada peristiwa yang terjadi di Indonesia, negara bagian dari Asia yang disebut sebagai bagian Timur dunia. Yaitu peristiwa di awal kemerdekaan atau masa dekolonisasi Indonesia di tahun 1946, yang disebut dengan Pembantaian Westerling.

Peristiwa kelam di tanah Sulawesi ini dilakukan pasukan khusus Belanda di bawah kepimpinan kapten bernama Raymond Westerling (Marwan Kenzari). Kapten berjuluk de Turk (Belanda) ini tercatat membantai hingga puluhan ribu masyarakat Sulawesi, yang saat itu dianggap pemberontak dan teroris karena pro-Republik.

Namun cerita filmnya lebih mengambil sudut pandang Belanda, melalui karakter protagonis bernama Johan de Vries (Martijn Lakemeier). Prajurit muda Belanda yang dipilih secara pribadi oleh Westerling untuk masuk dalam pasukan khususnya.

Itulah kenapa sepanjang film penonton akan melihat adegan dari karakter de Vries yang seolah digambarkan pada 2 masa yang berbeda, yaitu di masa kini dan di masa lalu. de Vries di masa kini menjadi gambaran premis yang dibuat Mustafa Duygulu dan Jim Taihuttu sebagai penulis. Sedangkan logline untuk penjabaran dan pendetailan cerita, baik karakter maupun konflik sebenarnya tergambar dari de Vries di masa lalu.

Contoh sederhananya perbedaan di masa kini de Vries dan temannya Mattias Cohen (Jonas Smulders) yang memiliki kehidupan berbeda pasca kepulangan mereka ke Belanda. Kehidupan yang sulit de Vries bertolak belakang dengan Cohen yang hidup dalam kenyamanan.

Menelisik ke masa lalu keduanya ketika masih menjadi tentara. de Vries sebagai tentara protagonis yang awalnya terlihat dingin ternyata lebih memiliki hati dan perasaan. Bahkan tindak-tanduknya dilakukan dengan logika. Karakter yang bertolak belakang dengan temannya, Cohen. Ini yang membuatnya berani “menentang” Metode Westerling dari Kapten de Turk ketika menjalankan operasi di Sulawesi, karena tidak sesuai dengan hati nuraninya.

Konsekuensi harus diterima de Vries. Tak hanya dikeluarkan dari pasukan khusus, de Vries harus menerima tembakan di bagian kanan perutnya dari sang kapten yang meninggalkan bekas luka. Luka yang sempat diperlihatkan di adegan de Vries di masa kini. Peliknya lagi diketahui bahwa ayahnya, Johan de Vries senior (Reinout Bussemaker) menjadi bagian dari orang Belanda yang pro-Yahudi. Imbas yang terus dirasakan de Vries hingga dirinya kembali ke Belanda. Konflik yang menjadi bagian dari unsur drama film The East, selain film ini ber-genre war thriller.

The East yang hanya mengambil satu sudut pandang saja, yaitu Belanda. Akhirnya memunculkan kontroversi terhadap film ini khususnya dari masyarakat Indonesia. Selain jumlah korban yang diungkapkan setiap sumber berbeda, Jim Taihuttu sebagai sutradara dan penulis hanya menggambarkan bahkan menyebut pejuang-pejuang bangsa Indonesia, termasuk tokoh Nasional, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai pemberontak dan teroris. Padahal pada kenyataannya para pejuang ini hanya ingin mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang diraih di tahun sebelumnya, tahun 1945.

Diluar ceritanya berdasarkan sejarah atau fiksi, The East kurang memberikan ketegangan sebagai sebuah film perang. Adegan berdarah atau aksi tembak-menembak sangat minim ditampilkan. Itu pun ditampilkan di bagian akhir atau menjelang ending film. Adegan yang menampilkan Kapten de Turk mengeksekusi langsung warga Sulawesi yang diduga berkomplot dengan mereka yang pro-Republik. Seakan film ini hanya sekedar bercerita yang membuat filmnya sedikit flat atau datar karena durasi filmnya yang cukup lama.

Namun vibes tahun 1946 sebagai latar filmnya, seperti pemain yang memang asli orang Belanda dan Indonesia, suasana (Indonesia dan Belanda), pakaian hingga bangunan cukup tergambarkan. Tentang aktor Indonesia yang terlibat seperti Lukman Sardi, Yayu Unru, Denise Aznam, Putri Ayudya hingga Ence Bagus cukup disayangkan tidak mengoptimalkan akting mereka. Diantara deretan aktor Indonesia diketahui pernah berperan dalam film dengan genre yang sama.

Proses syuting film The East diketahui dilakukan pada 2019 yang memakan waktu hingga 48 hari dengan mengambil lokasi di kedua negara, yaitu Indonesia (Jawa) dan Belanda. Durasi filmnya sendiri cukup lama sekitar 2 jam 17 menit (137 menit).

Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada September 2020, namun tertunda karena pandemi. Akhirnya diputar perdana di Festival Film Belanda di bulan yang sama, tepatnya 25 September 2020. Kini penikmat film tanah air bisa menontonnya pada Sabtu (7/8) di layanan OTT Mola TV. Sebelum ini The East sudah tayang di layanan video on demand, Prime Video pada 13 Mei 2021.

 

Production company: New Amsterdam Film Company, Salto Films, Wrong Men North, Base Entertainment, Ideosource Entertainment, Kaninga Pictures, XYZ Films

Distributor: Splendid Film, Amazon Prime Video

Cast: Martijn Lakemeier (Johan de Vries), Marwan Kenzari (Raymond Westerling), Jonas Smulders (Mattias Cohen), Jim Deddes (Werner de Val), Abel van Gijlswijk (Charlie), Coen Bril (Eddy), Joenoes Polnaija (Samuel Manuhio), Lukman Sardi (Bakar), Denise Aznam (Gita Tamim)

Director: Jim Taihuttu

Screenplay: Mustafa Duygulu, Jim Taihuttu

Producers: Sander Verdonk, Julius Ponten, Shanty Harmayn

Duration: 2 hours 17 minutes