Review

Review: The Black Phone, Psychopath dan Balon Hitam Sebagai Identitas

69
×

Review: The Black Phone, Psychopath dan Balon Hitam Sebagai Identitas

Share this article
(from left) Gwen Shaw (Madeleine McGraw) and Finney Shaw (Mason Thames) in The Black Phone, directed by Scott Derrickson.

LASAK.iD – Blumhouse Production dan Crooked Highway melalui sutradara Scott Derrickson kembali dengan judul film terbarunya. Ini menjadi kerjasama dari pembuat film yang spesialis dengan konsep dark story juga horror.

Terbaru dengan genre supernatural horror datang dari judul The Black Phone. Ini merupakan pengembangan dari short story dari 18 tahun yang lalu dengan judul yang sama karya penulis Joe Hill.

The Black Phone pada dasarnya memang dark story namun Joe Hill menggabungkan dengan cinta, empati juga horor. Sesuatu yang menarik perhatian Scott Derrickson untuk menjadikan short story berjudul The Black Phone tersebut ke cerita panjang.

Joe Hill membawa inspirasi dari dalam rumahnya sendiri. Di mana terdapat ruangan bawah tanah yang belum selesai, terkesan gelap dengan banyaknya sarang laba-laba. Dan sebuah telepon tua dari tahun 30-an sampai 40-an yang tidak berfungsi lagi, dengan membayangkan tetap berdering untuk menciptakan sebuah ketakutan.

Ini yang kemudian menjadi dasar dari The Black Phone yang ditulis kembali oleh C. Robert Cargill dan Scott Derrickson, bercerita tentang The Grabber (Ethan Hawke) seorang penculik dan psychopath yang melakukan aksinya di kota Denver, Colorado. The Grabber mengincar secara acak korbannya yang semuanya adalah anak-anak.

Berkedok pesulap, cara The Grabber menipu korbannya, dan selalu melumpuhkan dengan cara yang sama dengan menyemprotkan cairan tertentu ke mata untuk mengganggu penglihatan dan mulut agar tidak bisa berteriak. Balon hitam yang ditinggalkan sebagai identitas sekaligus satu-satunya petunjuk.

Total ada 6 anak di Denver yang menjadi korban penculikan The Grabber, yaitu Griffin (Banks Repeta), Vance (Brady Hepner) , Donna (Rebecca Clarke), Bruce (Tristan Pravong) dan Robin (Miguel Cazarez Mora). Yang kesemuanya memiliki hubungan dengan korban terakhir atau keenam bernama Finney (Mason Thames).

The Black Phone sama dengan film lainnya yang menjadikan karakter antagonis seorang pembunuh berantai atau psychopath. Cukup menjadi perhatian ketika Scott Derrickson dan C. Robert Cargill membawa kengerian dengan cara berbeda.

The Black Phone tak perlu secara continuity menunjukkan adegan sadis dan berdarah. Hanya perlu di momen yang pas The Black Phone mampu memberikan kesan sadis ke penonton. Terlebih genre horror yang lebih dikedepankan dari The Black Phone. Tentang deringan dari telepon rusak dengan arwah anak-anak korban dari The Grabber.

C. Robert Cargill dan Scott Derrickson cukup berhasil ketika menciptakan kesan pertama bahwa horror yang dimaksudkan seperti haunted horror story, ketika arwah membawa teror menyeramkan ke karakter utama. Ini dimulai dari deringan pertama yang tidak ada jawaban.

Kenyataannya horror yang dimaksudkan justru sebaliknya, ketika arwah korban The Grabber justru menjadi hero atau pahlawan untuk Finney melarikan diri. Termasuk kemampuan cenayang yang dimiliki Gwen (Madeleine McGraw), adik perempuan dari Finney.

Segala aspek dalam film The Black Phone yang dibangun cukup apik oleh C. Robert Cargill juga Scott Derrickson. Cerita yang dibangun pun mengalir begitu saja, padahal plot twist terselip dengan samar dalam cerita yang dibangun. Bukan dengan hasil yang membagongkan tetapi cukup membuat penonton bilang ‘wow’.

Plot twist yang salah satunya datang dari Finney yang melakukan hal yang diberitahukan arwah temannya satu per satu. Dari menggali lantai, tali untuk menjangkau jendela, menjebolkan tembok, kode gembok hingga mengisi gagang telepon dengan pasir.

Setelah melakukannya, kembali mindset penonton dibuat bahwa usaha Finney akan sia-sia seperti anak-anak sebelumnya dan berujung kematian. Ternyata di klimaks semua itu memiliki keterkaitan yang kuat, yang membuat Finney bisa mengembalikan keadaan terhadap The Grabber. Bahkan hasilnya mungkin tidak pernah terpikir di penonton.

Hal berbeda juga dilakukan Robert dan Scott dalam membangun cerita. Banyak penulis perkuat cerita atau karakter akan menjelaskan di awal, tengah atau akhir film sebab-akibat atau alasan karakter antagonis menjadi psychopath.

Hal itu tidak berlaku untuk film The Black Phone, Robert dan Scott hanya menegaskan bahwa The Grabber seorang pembunuh atau sadisnya seorang psychopath. Namun, hal itu cukup membuat menarik filmnya untuk jadi pilihan tontonan bagi penyuka cerita dalam The Black Phone.

Ethan Hawke yang memerankan karakter antagonis sebagai The Grabber berhasil melakukannya. Sang aktor yang memang memiliki wajah dingin dan tatapan yang dingin terasa cocok. Walau secara penuh wajah dari Ethan terlihat jelang akhir filmnya. Karena sepanjang film perannya memang menggunakan topeng.

Production company: Blumhouse Production, Crooked Highway
Distributor: Universal Pictures
Cast: Mason Thames (Finney), Madeleine McGraw (Gwen), Ethan Hawke (The Grabber), Jeremy Davies (Terrence), Miguel Cazarez Mora (Robin), Tristan Pravong (Bruce), Brady Hepner (Vance), Rebecca Clarke (Donna), Banks Repeta (Griffin), E. Roger Mitchell (Detective Wright), Troy Rudeseal (Detective Miller), James Ransone (Max), etc
Director: Scott Derrickson
Screenplay: Scott Derrickson, C. Robert Cargill
Producers: Jason Blum, Scott Derrickson, C. Robert Cargill
Duration: 1 hours 42 minutes