Review

Review: Susuk: Kutukan Kecantikan, Ketika Sulit Akan Kematian

161
×

Review: Susuk: Kutukan Kecantikan, Ketika Sulit Akan Kematian

Share this article

LASAK.iD – Film horror produksi Indonesia untuk cerita yang dihadirkan tak lepas dari keaslian yang terjadi di kehidupan nyata. Ini juga yang dilakukan GoodWork bersama Visinema Pictures yang bekerja sama dengan Legacy Pictures dan Visionari Capital Film Fund untuk film berjudul Susuk.

Husein M. Atmodjo atau dikenal dengan Moji dalam menulis cerita filmnya kemudian menjadi skenario melakukan riset ke beberapa orang yang spesifik pekerjaannya memasangkan susuk. Juga kepada mereka para wanita yang adalah penggunanya.

Itulah alasan cerita dari film Susuk tidak spesifik mengarah pada sebuah daerah, namun berbicara secara umum akan fenomena susuk itu sendiri. Walau secara pengaplikasian dalam filmnya budaya Jawa Tengah cukup kental di bawa dalam filmnya.

Baca juga: Susuk: Kutukan Kecantikan Siap Berikan Tontonan Berbeda

Sinopsis

Susuk berkisah tentang seorang bernama Laras (Hana Malasan) yang bekerja sebagai PSK. Suatu hari, Laras mendapat perlakuan percobaan pembunuh oleh pria yang diketahui adalah seorang pejabat. Akibatnya, Laras harus mendapatkan perawatan intensif karena luka yang didapatkannya.

Saat dilakukan pemeriksaan CT Scan didapatkan banyak logam seperti jarum di banyak bagian tubuh Laras terutama pada bagian wajah. Ternyata kejadian dan sakitnya Laras menjadi awal mula rentetan teror dari jin penunggu susuk yang dipakainya.

Ayu (Ersya Aurelia) mulai menemukan jalan buntu untuk kesembuhan sang kakak, ditambah mahalnya biaya perawatan rumah sakit. Bersama dengan Arman (Jourdy Pranata), Ayu membawa Laras kembali ke kampung halaman dan mencoba penyembuhan dengan cara berbeda.

Ayu sempat meminta bantuan dari seorang pemuka agama bernama Ustad Rahmat (M.N. Qomaruddin). Belum sempat melepaskan semua susuk dari tubuh Laras, Ustad Rahmat sudah kewalahan karena jin yang menghuni susuk di tubuh Laras terlalu banyak dan memiliki aura yang sangat gelap.

Ustad Rahmat yang dianggap mengusik mendapat ganjaran yang menyedihkan. Ia ditemukan meninggal dalam keadaan yang tidak wajar di rumahnya. Hal tersebut membuat gosip tentang Laras dan Ayu semakin menyebar di kampung tersebut.

Apalagi Seno (Elang El Gibran), preman kampung yang cintanya pernah ditolak oleh Laras, masih memiliki dendam dan memanfaatkan situasi untuk menyudutkan Ayu dan Laras. Kondisi Laras yang tak kunjung membaik membuat Ayu untuk mencari orang pintar seperti dukun untuk membantu sang kakak.

Melalui internet, Ayu menemukan seorang dukun yang terkenal bernama Prasetyo (Muhammad Khan). Mahar yang cukup mahal membuat Arman yang datang langsung ke tempat praktek Prasetyo memutuskan untuk kembali dengan tangan kosong.

Hari-hari kembali dilalui ketiga dengan hal yang sama, namun teror semakin menjadi-jadi karena kondisi Laras yang semakin melemah karena tubuhnya dimanfaatkan oleh jin penunggu susuk. Sampai suatu hari kondisi semakin memburuk yang membuat Ayu dan Arman membawa Laras ke tempat praktek Prasetyo.

Di sana, susuk yang ada di dalam tubuh Laras satu per satu dikeluarkan. Hanya menyisakan satu susuk yang memiliki kekuataan gelap yang kuat. Sosok yang juga mencelakai Ustad Rahmat sebelumnya. Kondisi tubuh Laras yang sebelumnya membusuk sebenarnya sempat berangsur membaik.

Namun, satu sosok yang paling sulit ditaklukkan membuat semuanya menjadi sia-sia. Prasetyo bahkan harus mengeluarkan kodam harimau miliknya untuk melawan mahkluk tersebut. Tak cukup kuat, Prasetyo yang lengah karena godaan jin harus meregang nyawa.

Sebelumnya, Ayu yang mendapatkan cerita tentang riwayat Ibunya (Izabel Jahja) dibantu oleh Damar (Whani Dharmawan) seorang kepala desa, yang ternyata adalah ayah kandungnya. Mereka menemui seorang dukun wanita yang mengungkapkan bahwa Ibu mereka semasa hidup juga memasang susuk ke tubuhnya.

Berpesan untuk menguburkan tubuh Laras dalam satu liang bersama sang ibu karena dukun tersebut telah memasang penangkal bala untuk mengurung jin yang bersemayam di dalam jarum susuk sang ibu juga yang ada dalam tubuh Laras.

Dengan keringat dan air mata Ayu berhasil melakukannya, meski harus kehilangan nyawa dari Pak Damar yang adalah Ayahnya, Arman bagaikan kakak laki-laki untuknya dan tentu Laras, kakak perempuan walau berbeda ayah.

Review

Susuk seperti dikatakan oleh Angga Dwimas Sasongko selaku eksekutif produser lebih menampilkan haunted horror dari sisi karakter bukan pada keseluruhan film. Dengan kata lainnya kehororan, seperti jump scare dengan kemunculan hantu yang intens tidak banyak ditampilkan di film ini.

Hal itu lebih diperlihatkan di sisi karakter yang dalam filmnya adalah Laras yang diperankan oleh Hana Malasan. Penonton lebih dibuat takut dengan sosok Laras yang terjebak dalam sakaratul maut. Membuatnya seperti sosok mayat hidup dengan tubuh yang penuh dengan luka membusuk.

Itu yang menjadi alasan film Susuk tidak terlihat seperti kebanyakan hauted horror khas Indonesia. Kemunculan jin atau setan dalam filmnya hanya sebagai trigger bukan jump scare yang sebenarnya. Sesuatu yang juga menjadi alasan ketakutan di sebagian penonton.

Dibandingkan pada setan atau karakter Laras itu sendiri, penonton lebih merasa merinding pada ambience yang dibangun filmnya, terutama diciptakan lokasi yang digunakan. Karena Susuk sama dengan film horor Indonesia lainnya yang menggunakan lokasi asli bukan studio dengan efek green screen.

Terkait itu yang menyambungkan dengan sinematografi filmnya, yaitu tone color terutama pada adegan malam hari masih. Entah sebuah kesengajaan atau memang sedikit blunder, warna yang menggambarkan malam pada filmnya masih terlihat cukup terang.

Jika membuat terangnya karena sinar bulan hal itu masih cukup masuk akal, jika sebaliknya menjadi cukup aneh. Adegan dalam kerimbaan hutan namun terlihat cukup terang. Begitu pun pada efek petir, dibandingkan menggunakan efek komputer, film Susuk ter;ihat sekali memanfaatkan jenis lampu tertentu untuk membuat efek tersebut.

Sebagian penonton mungkin menyadari bahwa itu cukup “bocor”, istilah yang digunakan dalam produksi sebuah film. Terkadang terliha terlalu terang dan terkadang cahayanya justru berasal dari sisi samping bukan dari sisi atas.

Ini hanya sebagian kecil dari teknis film yang mungkin “ganggu” yang di sebagian penonton menyadarinya. Sesuatu yang tidak juga membuat blunder fatal pada filmnya. Teknis lain yang mulus dan menarik perhatian ketika adegan fight antara Laras dan Prasetyo.

Rasa tidak nyaman yang akhirnya membatasi gerakan sepertinya tidak berlaku untuk Muhammad Khan. Dikenal sebagai pemain teater dengan tubuh luwes terlihat di adegan tersebut. Loncat dan jatuh cukup mulus dan tidak berlebihan dan maksa.

Hal lain dari film Susuk pada cerita yang dibangun, Moji sebagai penulis dan Ginanti Rona sebagai sutradara berfokus pada susuk, utamanya akibat setelahnya. Untuk hal lainnya hanya mengambil bagian kecil dari keseluruhan cerita. Terlihat sebagai pemanis atau hanya sebagai trigger pada premis utamanya yaitu susuk.

Production company: GoodWork, Visinema Pictures, Visionari Capital Film Fund
Distributor: Legacy Pictures
Cast: Hana Malasan (Laras), Ersya Aurelia (Ayu), Jourdy Pranata (Arman), Whani Dharmawan (Damar), Muhammad Khan (Prasetyo), Elang El Gibran (Seno), Izabel Jahja (Ibu), M.N Qomaruddin (Ustad Rahmat)etc
Director: Ginanti Rona
Screenwriter: Husein M. Atmodjo (Moji)
Producers: Ridla An Nuur, Novi Hanabi
Duration: 1 hours 42 minutes