Review

Review: Story of Dinda: Second Chance of Happiness

84
×

Review: Story of Dinda: Second Chance of Happiness

Share this article

LASAK.iD – Sukses dengan film pertamanya berjudul Story of Kale: When Someone’s in Love, Visinema merilis lanjutan film tersebut di akhir Oktober ini. Hadir sebagai spin-off, film berjudul Story of Dinda: Second Chance of Happiness akan menitikberatkan cerita pada sudut pandang karakter Dinda.

Mengusung plot maju-mundur Story of Dinda: Second Chance of Happiness memperlihatkan bagaimana Dinda yang penuh tekanan saat bersama Kale, dengan Dinda yang terlihat bebas saat bersama Pram. Yap Pram, sosok yang membawa warna baru dalam hidup Dinda.

Story of Dinda: Second Chance of Happiness masih membawa nafas drama kekhasan dari Visinema. Setiap film pasti ada pesan yang ingin disampaikan ke penonton. Hal menarik yang bisa digarisbawahi untuk karya sutradara Ginanti Rona satu ini. Penyampaian pesan dilakukan dengan pendekatan yang cukup berbeda dan menarik.

Para karakternya, terlebih Dinda (Aurelie Moeremans) dan Pram (Abimana Aryasatya) melakukannya seperti mereka tidak berakting. Keduanya terlihat seperti melakukan obrolan antara pria dan wanita. Seolah bukan menunjukan karakter untuk filmnya namun karakter diri keduanya di kehidupan nyata.

Tersi E. Ranti sebagai produser mengatakan film ini memang menghadirkan Pram yang jauh lebih dewasa untuk sisi pengalaman dan umur dari karakter Dinda. Kecocokan yang ditemukan pada Abimana Aryasatya yang memiliki pembawaan yang hangat dan mimik wajah yang pas untuk penggambaran karakter Pram.

Secara akting memang keduanya membangun chemistry yang baik. Namun perbedaan umur yang tergambar dari wajah tak bisa dibohongi, yang sesaat membuat kesan kurang pas untuk keduanya dipasangkan. Balik lagi akting yang ditunjukan Abimana untuk karakter Pram mampu menutupi kekurangan tersebut.

Bioskop Online dan Visinema melalui Ginanti Rona dan M. Irfan Ramli sepertinya ingin menampilkan film yang menunjukan kedalaman karakter dengan konfliknya masing-masing dan bukan sekedar akting. Yang banyak ditemui dalam film produksi hollywood, termasuk beberapa negara di Eropa juga di Asia.

Sebagai referensi bisa melihatnya dalam film, seperti Five Feet Apart, The Fault in Our Stars atau Love, Rosie dan banyak film lainnya. Kedekatan 2 karakter utamanya (pria & wanita) terjalin karena hal yang pelik di diri masing-masing.

Circle yang sepertinya ingin dibangun oleh Visinema di industri film tanah air. Ini menjadi perjuangan dan pekerjaan rumah yang panjang Visinema atau Bioskop Online untuk membuat terbiasa sebagian besar penonton Indonesia. Tak dipungkiri sebagiannya itu masih perlu perluasan konflik dengan adegan yang lebih jelas. Tak sebatas pada kekuatan skenario maupun gestur tubuh saja.

Seperti yang ditunjukan pada film Story of Dinda: Second Chance of Happiness yang mungkin melihatnya tak lebih sebagai film curhat. Bukan diartikan jelek, hanya menghilangkan sense gregetnya saja. Sehingga terasa cukup datar.

Tentu penonton Indonesia patut apresiasi yang dilakukan oleh Visinema maupun Bioskop Indonesia yang terus membuat cicle-nya tersendiri dengan konsep yang berbeda.

Film Story of Dinda: Second Chance of Happiness yang tayang di Bioskop Online mulai 29 Oktober 2021. Selain Aurelie Moeremans dan Abimana Aryasatya, dibintangi juga oleh Cantika Abigail, Riyochi Hutomo dan Ardhito Pramono sosok pemeran Kale dari filmnya terdahulu.