Review

Review: Ruby Gillman, Teenage Kraken

43
×

Review: Ruby Gillman, Teenage Kraken

Share this article

LASAK.iD – DreamWorks Animation, salah satu studio animasi kembali merilis film terbaru di musim panas ini. Berjudul Ruby Gillman, Teenage Kraken, menjadi karya terbaru dari sutradara yang spesialis menggarap film animasi, Kirk DeMicco.

Ruby Gillman, Teenage Kraken masih kental membawa kekhasan dari studio animasi DreamWorks Animation. Terutama pada cerita dengan menyajikan petualangan yang dikombinasikan dengan problematika karakter. Seringnya problema keluarga pada hubungan anak dengan orang tua.

Pada film kali ini misalnya, membawa penonton ke petualangan Ruby Gillman (Lana Condor), remaja 15 tahun yang ternyata mewarisi tahta kerajaan kraken di lautan lepas. Hanya saja, orang tuanya lebih memilih kehidupan berbeda layaknya manusia selama 15 tahun di daratan.

Itulah alasan Ruby dilarang orang tuanya mengikuti berbagai kegiatan yang berhubungan dengan laut selama ini. Pada akhirnya hal tersebut tetap tidak terhindarkan, saat Ruby tidak sengaja menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan Connor (Jaboukie Young-White).

Membuatnya kebentuk asli menjadi sosok kraken besar berwarna ungu yang selama ini dijuluki monster laut oleh penduduk kota Oceanside. Kemunculannya memancing respon banyak mahkluk lautan lainnya.

Tak hanya grandmamah (Jane Fonda) tetapi juga putri duyung bernama Chelsea Van Der Zee (Annie Murphy). Tak lain adalah musuh bebuyutan kraken di lautan yang secara tiba-tiba hadir sebagai murid baru di sekolah.

Gelombang yang ditimbulkan Ruby saat kebentuk asli membuat ambisi Chelsea kembali untuk memperdaya Ruby demi membantunya mengambil kembali tongkat trisula, senjata kuat untuk bisa menguasai lautan dari kerajaan terkuat kraken.

Cerita dari Ruby Gillman, Teenage Kraken pada akhirnya memang menekankan pada konflik keluarga. Tentang remaja seperti Ruby yang sedang memiliki hasrat tinggi untuk mengetahui dunia luar dan hal-hal yang belum diketahui.

Pam Brady, Brian C. Brown dan Elliott DiGuiseppi tidak ingin juga terjebak dengan kebanyakan cerita animasi dititik yang sama, pada konflik, ambisi dan keluarga. Ketiganya mencoba menyelipkan sisi pahlawan pada karakter utamanya, Ruby Gillman.

Tak juga mencoba yang biasa, kali ini melibatkan jati dirinya sebagai kraken. Mahkluk besar yang dianggap penduduk kota Oceanside sebagai penguasa lautan. Di mana, dengan kekuatan yang dimilikinya mampu mengalahkan niat jahat Chelsea.

Duyung yang berambisi menguasai lautan dengan merebut tahta kerajaan kraken tetapi juga tidak segan untuk mencelakakan manusia untuk ambisinya tersebut. Ruby yang telah lama tinggal di daratan dan memiliki sahabat manusia tentu tidak membiarkan hal tersebut.

Pada akhirnya dengan bantuan dari Ibunya Agatha Gillman (Toni Collette) dan Grandmamah mampu menghancurkan tongkat trisula dan mengembalikan kedamaian dari kota Oceanside. Sebelumnya, putri duyung yang dianggap sebagai mahkluk baik dan kraken sebagai yang jahat.

Kini keadaan terbalik dan keberadaan keluarga Gillman di kota Oceanside pun diterima dengan baik. Sekaligus menjadikan Ruby dan keluarganya sebagai pahlawan. Bahkan menjadikan banyak tempat di kota Oceanside yang nama dan ornamen didominasi dengan nuansa kraken.

Bahkan Ruby menjadi pahlawan di lautan dengan membantu mahkluk laut yang lemah untuk melawan kelompok yang lebih kuat. Juga kisah cintanya dengan Conor yang juga berjalan baik pada akhirnya.

Penulisan cerita filmnya cukup memiliki kemiripan dibanyak sisi, karakter yang menjadikannya Ruby Gillman, Teenage Kraken sedikit berbeda. Penggambaran kraken yang sebenarnya sosok gurita raksasa pun mencoba lebih ramah untuk anak-anak, walau dibandingkan dengan asli memang terlihat sedikit aneh. Lagi untuk sebuah kebutuhan hiburan hal tersebut wajar saja.

Keseluruhan ceritanya pun memang dibuat untuk ramah sebagai tontonan keluarga terutama anak-anak. Dengan alur dan penggambaran yang tidak rumit ditambahkan dengan selipan komedi yang membuat penyegaran untuk filmnya.

Hanya saja, penulis dalam membangun mood penonton cukup kurang. Awal film atau pengenalan akan cerita cukup menarik, namun di tengah cerita yang menjadi titik kelemahan cerita yang membangun mood konflik dirasakan cukup kurang dan membuat kejenuhan di penonton.

Jelang klimaks dari konflik ceritanya, mood mulai terbangun kembali walau tidak juga yang 100 persen. Mungkin penulis ingin membangun mood seperti sebuah roller coaster tetapi tidak terlalu berhasil.

Komedi menjadi penyelamat cerita filmnya, terutama yang datang dari karakter paman dari Ruby bernama Brill (Sam Richardson). Ucapan dan sikap yang digambarkan Brill selalu berhasil hadirkan tawa di penonton.

Begitu juga dari salah satu karakter sahabat Ruby yang berpenampilan gothic bernama Bliss (Ramona Young). Bliss memang tidak se-atraktif Paman Brill namun sikap anehnya yang berlebihan dalam menilai keadaan cukup sukses hadirkan tawa.

Minus yang tidak juga fatal untuk filmnya hanya bisa dikatakan mengganggu mood yang sudah terbangun baik sejak awal filmnya. Kembali, pesan penting dibalik cerita yang dibangun oleh penulisnya tersampaikan baik dari karakter-karakter yang diciptakan.

Sebagai tontonan keluarga sangat pas juga menghibur dan untuk penggemar Blackpink mungkinnmenunggu bagian dari filmnya yang menampilkan lagu idolanya yang berjudul Pink Venom.

Production company: DreamWorks Animation
Distributor: Universal Pictures
Cast: Lana Condor (Ruby Gillman), Toni Collette (Agatha Gillman), Annie Murphy (Chelsea Van Der Zee), Sam Richardson (Brill), Liza Koshy (Margot), Will Forte (Gordon Lighthouse), Colman Domingo (Arthur Gillman), Jaboukie Young-White (Connor), Blue Chapman (Sam Gillman), Eduardo Franco (Trevin), Ramona Young (Bliss), Echo Kellum (Doug), Nicole Byer (Janice), Jane Fonda (Grandmamah), etc
Director: Kirk DeMicco
Screenwriter: Pam Brady, Brian C. Brown dan Elliott DiGuiseppi
Producers: Kelly Cooney Cilella
Duration: 1 hours 31 minutes