Review

Review: My Sassy Girl, Cerita Sederhana Penuh Warna

93
×

Review: My Sassy Girl, Cerita Sederhana Penuh Warna

Share this article

LASAK.iDSekuel atau trilogi menjadi istilah dalam film yang mungkin cukup familiar untuk masyarakat Indonesia. Sedangkan reboot, spin off hingga remake masih sedikit asing, walau cukup banyak film maker tanah air membuat film berdasarkan istilah tersebut.

Remake yang cukup sering dilakukan, sebut saja film berjudul Suzanna, Warkop DKI, Pengabdi Setan hingga Si Doel. Deretan film ini cukup menarik perhatian dengan meraih jutaan penonton.

Selain berasal dari judul film dalam negeri, beberapa lainnya ada yang berasal dari box office film luar negeri. Cukup banyak yang berasal dari negeri ginseng, Korea Selatan, seperti Sunyi (Whispering Corridors), Bebas (Sunny), Sweet 20 (Miss Granny) sampai yang terbaru yang akan tayang di 2022, Miracle In Cell No.7 dan Hello Ghost.

Masih di tahun ini, satu lagi film yang me-remake film luar dan kembali dari Korea Selatan, yaitu My Sassy Girl. Ini merupakan film romance comedy yang meraih box office korea di tahun 2001 yang diperankan aktris Jun Ji-hyun dan aktor Cha Tae-hyun.

My Sassy Girl versi Indonesia disutradarai oleh Fajar Bustomi dan ditulis ulang oleh Titien Wattimena. Sebagai versi Indonesia dari Gyun-woo, hadir aktor kenamaan Jefri Nichol. Lawan mainnya sebagai The Girl ada pendatang baru yang merupakan penyanyi, Tiara Andini.

Sebagai film remake tidak akan banyak perubahan pada sisi cerita. Namun lebih kepada penyesuaian dengan negara yang membuatnya. Indonesia sendiri seperti dikatakan Fajar Bustomi lebih relate dengan kehidupan zaman sekarang sebagai latar.

Karena ini sebuah remake, penonton akan mencoba compare dengan versi asli atau negara yang juga me-remake. Terkait ini kembali lagi ke selera masing-masing penonton tentunya.

Tapi jika melihat versi Indonesia, Fajar Bustomi cukup berani menyandingkan Jefri Nichol dengan Tiara Andini, yang dikenal adalah seorang  penyanyi dan baru di industri film.

Jika bicara akting, untuk Jefri Nichol tidak usah diragukan, beragam karakter dari anak sekolah hingga berandal sudah diperankan. Kali ini di film My Sassy Girl, Nichol untuk pertama kali menjadi karakter pria penurut dan lembut bernama Gian. Cukup dirasa jomplang, jika melihat berototnya badan Nichol.

Fajar Bustomi sebagai sutradara membuat karakter Gian pun menjadi lebih all out. Pada sisi wardrobe, pilihan warna pastel atau kalem seperti biru muda, merah muda juga cokelat menjadi tepat. Selain Nichol bermain apik yang tak sebatas pada dialog tetapi juga gesture, body language maupun mimik.

Wardrobe dengan warna yang ditampilkan pada filmnya sekaligus untuk menciptakan ambience pada genre romance filmnya. Comedy yang coba diciptakan oleh para karakter khususnya Gian pun cukup berhasil. Kembali pengalaman menjadi faktor hal tersebut.

Jefri Nichol dengan segudang pengalaman sebagai artis peran pada akhirnya mampu menutupi akting lawan mainnya Tiara Andini yang belum maksimal dan “rileks“. Cukup dimaklumi untuk Tiara yang memang pertama kali terjun ke dunia seni peran. Apalagi langsung untuk layar lebar dan didapuk sebagai peran utama.

Akting Tiara sebagai Sissy sebenarnya bukan dititik buruk, tetapi terlihat jelas belum mencapai titik konsisten. Ada momen Tiara mampu melakukan dengan baik, pas, cukup dan ada juga yang masih kurang. Hal ini juga berlaku untuk karakter lain yang diperankan Raja Giannuca sebagai Ifan, Petrus Mahendra sebagai Aria dan Ibnu Wardani sebagai Joko.

Film ini pun membawa kental kekhasan dari seorang Fajar Bustomi untuk film remake pertamanya My Sassy Girl. Seperti sutradara pada umumnya yang memiliki cirinya tersendiri di setiap film yang dibuat. Fajar selalu membuat film sederhana dengan hasil penuh warna, dengan pendekatan dari lingkungan sekitar.

Hal yang juga menjadi alasan Fajar membuat film My Sassy Girl versinya dengan latar waktu saat ini, dengan gambaran usia karakter pada usia 25 tahun. Tentu dengan penyajian konfliknya dengan rasa orang Indonesia.

Hal tersebut coba disokong dengan sinematografi yang mumpuni. Diungkap Fajar Bustomi, bahwa kamera yang digunakannya untuk film My Sassy Girl merupakan seri kamera yang sama yang digunakan James Cameron pada karya terbarunya Avatar 2.

Itu adalah kamera dari keluaran merk Sony dengan nama Venice 2. Terlihat hasil yang jernih dan bokeh, ketajaman pada hasil shot sebuah objek. Tanpa elemen yang berlebihan pada proses editing. Walau ada bagian scene dengan angle yang diambil dari ketinggian dengan hasil seperti patah-patah ketika menonton filmnya.

My Sassy Girl untuk sebuah tontonan cukup menghibur, terlepas pada kekurangan di sisi tertentu filmnya. Untuk lebih suka pada versi yang mana, hal itu kembali lagi pada selera masing-masing orang.

Baik Titien Wattimena maupun Fajar Bustomi mencoba menciptakan My Sassy Girl versi Indonesia menjadi film baru tanpa orang harus melihat versi aslinya. Penonton pun coba dibawa ke dalam cerita melalui narasi yang dibawakan karakter Gian untuk menggambarkan karakter Sissy. Yang sebenarnya menjadi tanda tanya di penonton tentang apa, siapa dan bagaimana karakter dari Sissy.

Itulah kenapa pada jelang ending filmnya penulis menyelipkan plot twist yang menjadi jawaban narasi dari karakter Gian terhadap karakter Sissy yang dimainkan Tiara Andini.

Film karya Fajar Bustomi yang diperankan Jefri Nichol, Tiara Andini, Raja Giannuca, Petrus Mahendra, Ibnu Wardani, Surya Saputra, Indy Barends, Ferry Salim, Aida Nurmala dan masih banyak lainnya akan tayang serentak di bioskop mulai 23 Juni 2022.

Production company: Falcon Pictures
Distributor: Falcon Pictures
Cast: Tiara Andini (Sissy), Jefri Nichol (Gian), Raja Giannuca (Ifan), Petrus Mahendra (Aria), Ibnu Wardani (Joko), Surya Saputra (Yudha), Indy Barends (Ratih, Ferry Salim (Saleh), Aida Nurmala (Mima), etc
Director: Fajar Bustomi
Screenplay: Titien Wattimena
Producers: Frederica
Duration: 1 hours 57 minutes