Review

Review: La Luna, Saat Wanita Mengubah Sebuah Desa

368
×

Review: La Luna, Saat Wanita Mengubah Sebuah Desa

Share this article

LASAK.iD – Selain film produksi hollywood, negara-negara di Asia pun banyak memilih pangsa Indonesia untuk menayangkan film produksi mereka. Negara yang berada di Timur Asia seperti Korea Selatan, Jepang, Cina dan Hong Kong menjadi negara yang cukup rajin menayangkan filmnya di bioskop Indonesia.

Ada juga beberapa negara yang berasal dari satu kawasan di Asia Tenggara, yaitu Thailand dan Malaysia. Terbaru, film berjudul La Luna yang merupakan film produksi bersama Malaysia dan Singapura. Film yang disutradarai dan ditulis oleh M. Raihan Halim akan hadir di bioskop Indonesia pada 6 Desember 2023 mendatang.

Dibintangi aktor Shaheizy Sam sebagai Salihin Arshad dan Sharifah Amani sebagai Hanie Abdullah, film La Luna mengusung genre drama comedy yang siap mengocok perut penikmat film tanah air. Juga banyak pelajaran dan nilai positif akan kehidupan.

Sinopsis

La Luna berkisah tentang sebuah desa bernama Desa Basah yang berada di Malaysia. Desa Basah dipimpin seorang bernama Datuk Hassan (Wan Hanafi Su) yang berpegang teguh pada Syariat Islam sebagai hukum desa. Keteguhan yang dipegang penuh olehnya seketika buyar saat kehadiran seorang wanita bernama Hanie Abdullah di tengah-tengah mereka.

Hanie Abdullah diketahui sebagai kerabat dari salah satu penghuni Desa Basah. Terlalu lama menghabiskan waktu di perantauan, Hanie memutuskan kembali ke Desa Basah. Untuk merawat rumah peninggalan mendiang sang kakek yang telah lama tidak terurus.

Tak membutuhkan waktu yang lama, Hanie Abdullah mengubah cara berpikir dari penduduk Desa Basah. Ia tidak melakukannya dengan protes besar melainkan hanya dengan berjualan pakaian dalam wanita dan lingering. Pendekatan secara personal yang berhasil dengan penduduk desa, terutama pada kaum perempuan.

Perubahan yang ternyata membuat geram Datuk Hassan, yang menurutnya telah melanggar satu dari sekian banyak peraturan yang dibuatnya untuk Desa Basah. Terutama erat kaitannya dengan Syariat Islam yang selama ini Datuk Hassan junjung tinggi.

Pada akhirnya, Datuk Hassan menganggap keberadaan Hanie Abdullah dan toko La Luna semacam ancaman untuk keberadaannya sebagai orang yang disegani di Desa Basah. Rasa benci yang berlebihan dan penduduk desa yang mulai tidak mendukungnya memicu niat jahat di kepala Datuk Hassan.

Ia memerintahkan Pa’at (Hisyam Hamid) yang juga sedang tersulut amarah karena istrinya, Yam (Nadiya Nisaa) bersembunyi di toko La Luna sekaligus rumah tinggal Hanie Abdullah untuk membakar. Pa’at dan Datuk Hassan memanfaatkan momen warga desa yang sedang menikmati hiburan layar tancap untuk melakukan aksi tersebut.

Warga yang salah satunya Hanie juga Salihin Arshad melihat kepulan asap dari kejauhan dan menyadari itu berasal dari La Luna. Hanie dan Salihin yang menyadari itu bergegas kembali dan sudah mendapati toko tersebut sudah terbakar total.

Tanpa disadari oleh Pa’at dan Datuk Hassan ada seorang remaja bernama Azura Salihin (Syumaila Salihin), putri dari Salihin Arshad sedang mengecek barang di toko tersebut. Terkepung api dan asap membuat Azura kehilangan kesadaran di ruangan yang diketahui sebuah gudang.

Salihin yang tidak berpikir panjang menerobos kobaran api untuk menyelamatkan putrinya. Sempat tertimpa reruntuhan bangunan, Salihin berhasil membawa keluar dengan selamat putrinya dengan bantuan dari Yazid (Wafiy Ilhan).

Mengetahui ada yang ganjil dari peristiwa kebakaran toko La Luna, penyelidikan dilanjutkan dengan bantuan dari pihak berwajib. Salihin sebagai pimpinan dari keamanan di desa tersebut tidak tinggal diam. Ia membantu menelusuri tiap jengkal lokasi untuk mencari bukti.

Betul saja, Salihin menemukan sebuah korek api yang sudah terbakar. Salihin yang setiap harinya bercengkrama dengan warga desa tentu tahu kebiasaan dari setiap warga. Dan menyadari hanya ada satu orang yang memiliki kebiasaan merokok dengan menggunakan korek api gas, yaitu Datuk Hassan.

Untuk membuktikannya, Salihin mencoba menjebak Datuk Hassan dengan korek api yang ditemukannya. Saat terbukti bukan merasa bersalah, Datuk Hassan justru mengatakan hal yang menyakiti hati Salihin. Namun, bukan tanpa persiapan, Salihin menyiarkan pembicaraan keduanya melalui speaker yang tersambung ke seluruh desa.

Alhasil, Datuk Hassan ditangkap untuk beberapa kejahatan yang dilakukannya, termasuk menyogok pejabat daerah dan percobaan pembunuhan hingga nyaris menghilangkan nyawa seseorang. Desa Basah setelah terlepas dari belenggu Datuk Hassan melanjutkan kehidupannya dengan kebebasan.

Desa Basah di bawah kepemimpinan Salihin Arshad menjelma menjadi kampung yang lebih ceria, terbuka dengan segala hal yang modern tetapi tetap ada batas secara Syariat Islam yang sewajarnya. Sedangkan, Hanie yang sebelumnya merasa tertekan akibat ulah Datuk Hassan, sempat berniat untuk keluar dari Desa Basah dan kembali kota, yaitu Kuala Lumpur.

Namun, warga yang memiliki jiwa kemanusiaan dan sayang yang tinggi akhirnya memberikan kejutan kepada Hanie dengan membangun kembali La Luna secara gotong royong. Sekaligus ucapan terima kasih dari warga Desa Basah karena keberanian dan lantangnya Hanie menentang kebijakan tidak masuk akal dari Datuk Hassan.

Di akhir film diperlihatkan bagaimana Datuk Hassan harus melakukan pekerjaan sampingan sebagai tahanan dengan menjahit pakaian dalam wanita yang bermerek La Luna. Toko dan merek yang sebelumnya ia sempat bakar dengan tidak berperasaan.

Review

 

La Luna sebenarnya hadir dengan benang merah yang cukup sederhana. Akan gambaran replika dari kehidupan di dunia nyata, akan sebuah desa yang memiliki pemimpin dengan peraturan yang bukan tidak masuk akal tetapi menafsirkan ke warga desa dengan cara yang berlebihan.

Menariknya dari film La Luna, untuk premis justru mengambil sesuatu yang tidak pernah terpikirkan banyak film maker. Bukan tidak ada namun jarang ditemuai yang melakukannya secara out of box. Yaitu erat hubungan dengan wanita dan pakaian dalaman. Melalui karakter Hanie Abdullah yang diperankan aktris Malaysia, Sharifah Amani.

Banyak hal menarik yang tersaji dari filmnya, mulai dari akting, chemistry, cerita, skenario hingga sinematografi. Kesinambungan semua itu yang membuat film La Luna cukup minim untuk mendapat kritik. Eksekusi dari M. Raihan Halim sebagai penulis dan sutradara melakukannya secara pas, bahkan terkesan sederhana tetapi juga tidak biasa saja.

Terkait cerita, mungkin apa yang dilakukan oleh karakter Datuk Hassan dalam menerapkan Syariat Islam akan ada pro dan kontra di penonton. Namun, terlepas akan itu, M. Raihan Halim mencoba untuk menjadikan hal tersebut tidaklah terlalu berat untuk menghindari opini penonton yang memberi respon sebagai film yang menggurui.

Sehingga nilai positif dari filmnya tersampaikan dengan baik dan mengena di penonton. Seperti kaitannya dengan perempuan, religi, nilai kehidupan, sosial dan lainnya. Dengan kata lain, penonton nyaman dengan filmnya karena tak ingin melewatkan setiap scene by scene filmnya.

Ditambah dengan komedi yang dihadirkan filmnya, tidak hanya hadir dari deretan main character tetapi mereka sebagai supporting character. Bahkan sebagian besar lainnya datang dari pemain yang bukanlah aktor, melainkan warga asli dari lokasi yang ditampilkan film La Luna.

Hal yang juga disukai dari film produksi Malaysia, sehubungan dengan akting para aktor dan aktris. Ada kesan kuat yang diberikan dan mungkin menjadi kekhasan dari sinema Malaysia. Memang tidak di keseluruhan tetapi sebagian besar film memberikan kesan akting natural dari para pemainnya.

Sesuatu hal positif sebagai modal sinema Malaysia diterima di Indonesia, cukup berhasil pada genre drama comedy seperti yang disajikan film La Luna. Filmnya sendiri akan tayang di bioskop Indonesia pada 6 Desember 2023.

 

Production company: Clover Films, ACT 2 Pictures, One Cool Film Production, Papahan Films
Distributor: CBI Pictures
Cast: Shaheizy Sam (Salihin Arshad), Sharifah Amani (Hanie Abdullah), Wan Hanafi Su (Datuk Hassan), Hisyam Hamid (Pa’at), Nadiya Nissa (Yam), Nam Ron (Ayob), Farah Ahmad (Enah), Iedil Dzuhrie Alaudin (Ustadz Fauzi), Syumaila Salihin (Azura Salihin), Wafiy Ilhan (Yazid), etc
Director: M. Raihan Halim
Screenwriter: M. Raihan Halim
Producers: Asra Aman, Faith Mak
Duration1 hours 33 minutes