Review

Review: Ketika Berhenti di Sini, Saat Kehilangan Kalahkan Logika

134
×

Review: Ketika Berhenti di Sini, Saat Kehilangan Kalahkan Logika

Share this article

LASAK.iD – Sukses dengan film pertamanya Kukira Kau Rumah di tahun lalu, kini rumah produksi Sinemaku Pictures kembali dengan karya terbarunya berjudul Ketika Berhenti di Sini. Seolah sudah membentuk ciri khasnya, Sinemaku Pictures kembali hadirkan film yang memiliki nilai kehidupan dalam balutan drama psikologi.

Film pertamanya, penonton dibawa ke dalam kehidupan seorang bernama Niskala Widiatmika (Prilly Latuconsina) yang memiliki gangguan emosi sampai terdiagnosa gangguan bipolar. Kini di film Ketika Berhenti di Sini, yang kembali disutradarai dan ditulis Umay Shahab, vibes serupa masih cukup kental.

Sinopsis

Selain itu, Prilly Latuconsina yang kembali menjadi pemeran utama untuk perannya sebagai Anindita Semesta. Seorang desain grafis yang memiliki ketakutan akan kehilangan yang mendalam sejak Ayahnya (Indra Brasco) meninggal karena sakit.

Peristiwa menyakitkan untuk Dita yang menempatkan dirinya sebagai orang yang paling bersalah. Hingga mengganggu psikologi Dita, saat terpicu akan hal-hal yang berkaitan dengan rasa kehilangannya. Kondisi psikologi Dita sempat membaik sejak bertemu dengan seorang arsitek bernama Ed (Bryan Domani).

Hubungan keduanya berjalan hingga empat tahun, sayangnya sebuah kecelakaan merenggut nyawa Ed yang kembali membangkitkan rasa bersalah Dita seperti sebelumnya. Meski tidak sepenuhnya baik, namun keberadaan Ifan (Refal Hady), Untari (Lutesha) dan Awan (Sal Priadi) sedikit menghilangkan kesedihan Dita.

Ifan yang akhirnya menjadi kekasih Dita tidak sepenuhnya menghilangkan bayangan dan perasaan Dita terhadap Ed. Terlebih Ed hadir kembali di kehidupan Dita melalui teknologi Augmented Reality (AR) yang bisa menghadirkan sosok Ed seperti nyata.

Teknologi pada sebuah kacamata LOOK yang dipersiapkan Ed sejak lama melalui temannya yang berada di Jepang. Ed seperti sudah mendapatkan pertanda bahwa dirinya tidak akan bisa menemani Dita untuk waktu yang lama.

Pergolakan batin Dita berkecambuk untuk terjebak di masa lalu namun dengan Ed yang hanya sebuah hologram. Atau melanjutkan hidup dengan Ifan yang jelas selalu ada untuknya di masa-masa menyedihkannya. Rasa bersalah Dita yang memicu emosinya tidak stabil, membuatnya terjebak dalam kebahagiaan fana.

Kembali, orang terdekat dan diri Dita sendiri yang akhirnya membuatnya bisa merelakan semua dan melepaskan rasa bersalah dan kembali menjalani kehidupan yang lebih baik.

Review

Ketika Berhenti di Sini kembali melibatkan dua sahabat dalam satu produksi, yaitu Prilly Latuconsina sebagai produser dan Umay Shahab sebagai sutradara sekaligus bagian dari penulis filmnya. Melihat karya yang keduanya buat, ada obsesi untuk membuat sebuah cerita drama yang menye-menye.

Membentuk konflik dan drama yang tak sekedar kesedihan yang berlinang air mata, tetapi trauma mendalam yang mengganggu psikologi seseorang. Dengan mengadaptasi problematika yang terjadi di masyarakat untuk tetap membuatnya relate dengan penonton.

Ketika Berhenti di Sini seperti goretan idealisme keduanya, dituangkan dari berbagai sisi filmnya. Pada sinematografi misalnya, Umay Shahab banyak bermain dengan warna dalam filmnya. Untuk mewakili emosi karakternya terutama untuk karakter Dita.

Keseluruhan pada sinematografi filmnya, Umay ingin membawa ambience untuk lebih akrab dengan penonton generasi saat ini. Disebutkan sebelumnya pada warna filmnya, musik dan konflik yang lebih banyak ditemukan pada anak muda.

Untuk ceritanya sendiri, Umay Shahab, Monty Tiwa dan Alim Sudio melibatkan filsafat budaya Jawa dan ilmu meteorologi yang digambarkan dengan penjuru mata angin (metomini), yang masing-masing ditandai dengan warna untuk juga menggambarkan kehidupan manusia yang diwakili karakter Dita.

Untuk konflik psikologi dari karakter DIta, penulis cukup terinspirasi dari film hollywood berjudul Little Miss Sunshine (2006). Potongan film tersebut sebenarnya juga dimunculkan dalam adegan, namun harus dihapus terkait hak cipta.

Untuk juga membuat berbeda, Umay menggabungkan sciene dengan menghadirkan teknologi AI melalui sebuah kacamata khusus. Untuk itu, Ketika Berhenti di Sini hadirkan visual effect untuk mendukung adegan. Begitu pun ketika menampilkan metomini penjuru mata angin yang sepenuhnya menggunakan grafis komputer.

Memang bukan hasil yang sempurna tetapi cukup baik dan tidak menyakitkan mata untuk melihatnya. Hanya ada di adegan tertentu yang masih terlihat kurang smooth.

Production company: Sinemaku Pictures
Distributor: Legacy Pictures
Cast: Prilly Latuconsina (Niskala Widiatmika), Bryan Domani (Ed), Refal Hady (Ifan), Lutesha (Untari), Sal Priadi (Awan), Cut Mini (Ibu), Indra Brasco (Ayah), Widyawati (Omah), etc
Director: Umay Shahab
Screenwriter: Umay Shahab, Monty Tiwa, Alim Sudio
Producers: Prilly Latuconsina
Duration: 1 hours 42 minutes