Review

Review: Jeepers Creepers: Reborn Kembalinya Mahkluk Abadi

91
×

Review: Jeepers Creepers: Reborn Kembalinya Mahkluk Abadi

Share this article

LASAK.iDJeepers Creepers adalah sebuah seri film fiction horror yang cerita aslinya diciptakan oleh Victor Salva, dengan karakter mahkluk abadi yang ikonik bernama Creepers. Victor Salva pun sosok yang mendominasi sebagai sutradara dan penulis dari tiga seri atau trilogi film Jeepers Creepers yang dimulai dari tahun 2001, 2003 dan 2017.

Tahun 2022, universe Jeepers Creepers hadir untuk seri terbaru dengan judul Jeepers Creepers: Reborn. Sesuai judulnya dengan membawa embel-embel reborn, tentu akan ada hal-hal baru pada filmnya. Tak hanya peralihan kursi sutradara dari Victor Salva ke Timo Vuorensola, cerita filmnya pun kini ditulis oleh Sean Michael Argo.

Pemeran antagonis yang juga sebagai utamanya, Creepers pun turut digantikan Jarreau Benjamin, yang pada universe sebelumnya selalu diperankan Jonathan Breck. Meski datang dalam versi reboot, tetap pada tokoh antagonis Creepers inilah yang menjadi benang merah dari filmnya.

Timo Vuorensola mencoba menegaskan lewat seri terbaru untuk membentuk universe-nya sendiri untuk film Jeepers Creepers. Tak sepenuhnya baru karena embel-embel film terdahulu pasti akan tetap terbawa. Timo tetap berpatok pada image kuat yang sudah terbentuk tentang mahkluk abadi yang bangkit setiap 23 tahun untuk berburu selama 23 hari.

Ternyata keterkaitan film sebelum dan sekarang memang tidak bisa dipisahkan. Jika menggunakan teori cocoklogi, keterkaitan paling kuat pada seri pertama film Jeepers Creepers yang rilis di 2001 silam. Penghubung kedua film pada adegan dari dua karakter utama dari masing-masing menemukan ruang rahasia yang penuh dengan mayat membusuk.

Ini untuk mempertegas tentang keterkaitan sekelompok orang yang dalam penglihatan karakter Laine (Sydney Craven) memuja, melakukan ritual dan selama ini memberi makan mahkluk bernama Creepers. Yang sepertinya memang dilakukan secara turun-menurun.

Hal tersebut yang justru mengubah dan akhirnya membentuk image baru pada karakter Creepers. Timo tetap berpegang erat pada aksi Creepers yang sejak awal sudah terbentuk, sebagai mahkluk sadis dan tiada belas kasih.

Hanya saja, jika diukur dengan presentase, versi Timo memiliki intensitas untuk unsur-unsur tersebut masih di bawah film sebelumnya. Jump scare misalnya, versi Timo sebatas di titik menakuti namun tidak menakutkan apalagi mengerikan.

Walau khas jump scare yang juga didukung scoring dari Jeepers Creepers terdahulu masih kental dirasakan. Begitu juga dengan sensasi deg degan hampir di setiap adegan yang memperlihatkan Creepers pun dirasa kurang.

Kesan menakutkan terdahulu juga sedikit terciptakan dari kostum yang dikenakan aktor pemeran. Perubahan dari dua era sutradara memang tidak yang signifikan, namun dari masing-masing era sutradara memberikan kesan berbeda jika diperhatikan dengan seksama.

Pada era Victor, pembuat karakter dan cerita aslinya telah lebih dulu membentuk image kuat hingga saat ini, terutama di 2 film awalnya. Yang menggambarkan dengan sebenarnya mahkluk abadi yang bangkit setiap 23 tahun kemudian berburu selama 23 hari.

Era Timo hal sama sebagai benang merah tetap dipertahankan. Namun, sosok Creepers di filmnya saat ini pada banyak momen yang menampilkan karakter tersebut, membentuk image yang kadang di titik seorang psikopat yang mengenakan kostum. Kesan kuat sebagai mahkluk abadi sedikit bergeser. Kecuali adegan memakan otak korbannya yang masih menjelaskan Creepers adalah mahkluk abadi.

Sosok Creepers yang sudah jelas menjadi benang merahnya, Timo Vuorensola dan Sean Michael Argo juga pertahankan ciri dari film Jeepers Creepers dengan tetap menjadikan kaum muda sebagai protagonis utamanya. Jeepers Creepers: Reborn kali ini hadir dengan karakter Laine (Sydney Craven) dan Chase (Imran Adams).

Selain itu, Sean Michael Argo sebagai penulis mencoba menyelipkan hal-hal yang akrab dengan kaum muda masa sekarang. Itulah di awal film karakter Chase memiliki ketertarikan dengan sosok Creepers karena melihat konten horror yang ada di YouTube. Karakter lainnya yang dimainkan Ocean Navarro pun digambarkan seorang vlogger terkenal.

Bicara keseluruhan filmnya, beberapa bagian dari adegan filmnya sebenarnya ada yang tak sepenuhnya cerita terjelaskan. Pada akhirnya menjadi bagian dari cerita yang menggantung di penonton. Misalnya, tujuan Laine yang tengah hamil diculik dan dilakukan ritual, secara garis besar sudah terjelaskan.

Hanya saja jika memanfaatkan janin dari Laine untuk membuat kelahiran baru dan menjadikan Creepers yang abadi atau menjadikan tubuh Laine sebagai bonekanya (berpindah jiwa) justru menjadi tumpang tindih ketika Creepers aslinya ternyata masih tetap ada.

Tujuan penulis mungkin untuk membentuk pemikiran penonton bahwa film ini akan memiliki universe-nya kembali seperti sebelumnya. Dengan kata lain Jeepers Creepers: Reborn part II yang kemungkinan besar hadir di beberapa tahun ke depan.

Begitu pun latar yang digunakan filmnya kali ini. Maksud baik dengan memanfaatkan teknologi green screen sebagai pengganti lokasi sebenarnya. Kembali, hanya saja kurang optimal dalam membuatnya menjadi seperti asli terlihat kasar.

Kesan hologram pada background justru yang paling terasa di mata penonton. Atau tidak memberikan kesan mata penonton bahwa set itu benar-benar asli rumah, pemakaman hingga hutan. Tomi yang ingin membuat pembeda namun sedikit membuat blunder.

Production company: Orwo Studios, Black Hangar Studios, Infinity Films
Distributor: Screen Media Films
Cast: Sydney Craven (Laine), Imran Adams (Chase), Benjamin Taylor (The Creeper), Gabriel Freilich (Sam), Pete Brooke (Stu), Ocean Navarro, Dee Wallace, Gary Graham, Gabriel Freilich, Georgia Goodman, Terry Bird, etc
Director: Timo Vuorensola
Screenplay: Sean-Michael Argo
Producers: Terry Bird, Lee Broda, Alastair Burlingham, Suraj Gohill, Carey Kurtin, Matthew Kurtin, Seth Needle
Duration: 1 hours 28 minutes