Review

Review: Five Nights at Freddy’s, Saat Arwah Hidup Lewat Animatronik

238
×

Review: Five Nights at Freddy’s, Saat Arwah Hidup Lewat Animatronik

Share this article

LASAK.iD – Inspirasi cerita pada sebuah produksi film seringnya penulis adaptasi dari berbagai peristiwa yang dialami secara personal maupun dari orang-orang di sekitar. Ada juga yang diadaptasi dari sebuah novel, buku, komik bahkan dari sebuah video game. Sebagiannya sering juga disebut dengan istilah live-action.

Bicara tentang film yang mengadaptasi video game, beberapa waktu belakangan banyak dilakukan oleh rumah produksi. Seperti yang dilakukan Blumhouse Productions, Scott Cawthon Productions dan Striker Entertainment untuk film berjudul Five Nights at Freddy’s.

Ini merupakan adaptasi dari video game dengan nama sama karya Scott Cawthon. Namun, seri game Five Nights at Freddy’s 3 (2015) dan rilisan seri game setelahnya yang secara gamblang menjadi inspirasi utama untuk versi filmnya.

Di mana dalam filmnya digambarkan seorang bernama Mike Schmidt (Josh Hutcherson) menjadi penjaga malam baru untuk tempat bernama Freddy Fazbear’s Pizza yang telah lama terbengkalai. Mike diperintahkan menjaga properti terutama kelima animatronik seukuran aslinya yang menyerupai hewan antropomorfik yang tampil di panggung pertunjukan yang bernama Freddy Fazbear, Bonnie, Chica dan Foxy.

Mike terpaksa menerima pekerjaan itu demi tetap mendapatkan hak asuh sang adik yang bernama Abby (Piper Rubio). Tanpa informasi jelas Mike ternyata terjebak dalam situasi yang mengharuskannya menjaga para animatronik yang mengerikan yang dirasuki arwah anak-anak yang diculik dan dibunuh oleh Steve Raglan (Matthew Lillard), yang juga dikenal sebagai The Yellow Rabbit. Sosok yang tak lain adalah career counselor dari Mike.

Mike yang memiliki traumatis di masa kecil terus terjebak dalam lingkaran rasa bersalah. Sesuatu yang membuat para arwah anak-anak dengan mudah masuk ke alam bawah sadarnya untuk terus menyerang kewarasan dari Mike.

Para arwah yang telah terpengaruh oleh penciptanya, The Yellow Rabbit terus membunuh setiap orang setelah tengah malam. Sedikit pengecualian untuk Mike karena para arwah menginginkan Abby dan menjadikannya seperti mereka.

Keterkaitan para arwah dengan Mike ternyata terjadi sejak kecil sejak kehilangan adik laki-laki bernama Garrett (Lucas Grant), yang diculik oleh orang yang sama yang membuat kelima anak-anak tersebut menjadi arwah pendendam.

Ini disadari Mike setelah melihat para animatronik yang sama persis dengan gambar yang dibuat oleh Abby, setelah adiknya tersebut memiliki teman yang tidak terlihat. Dirinya mulai menyadari kembali dengan rentetan kejadian yang menjadi masuk akal.

Gambar yang seakan menjadi sebuah aplikasi cerita dari para animatronik. Terlihat ketika The Yellow Rabbit menunjukan dirinya, para animatronik tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Abby. Sesuai dengan gambar yang menunjukan bahwa The Yellow Rabbit adalah sosok baik yang merangkul mereka.

Mike yang menyadari itu kemudian meminta Abby untuk menggambar kembali dengan situasi yang sebenarnya. Seketika itu juga para animatronik berbalik menyerang Steve Raglan a.k.a The Yellow Rabbit dan mengurungnya di dalam animatronik-nya sendiri.

Freddy Fazbear’s Pizza kembali terbengkalai bahkan lebih parah dari sebelumnya. Mike dan Abby akhirnya semakin akrab dan sering berbicara sebagai kakak dan adik. Walau sesekali Abby merindukan teman tak kasat matanya karena dia tahu mereka itu tidak jahat dan tahu jika mereka sangat kesepian di tempat itu.

Review

Scott Cawthon, Seth Cuddeback dan Emma Tammi sebagai penulis film Five Nights at Freddy’s mencoba mempertahankan ritme cerita yang sudah dibangun dalam video game-nya. Hanya ada pergeseran karakter pada game untuk versi film, yaitu pada karakter Vanessa Afton.

Sebenarnya masih satu garis yang sama namun dalam filmnya diperkenalkan sebagai anak dari Steve Raglan a.k.a William Afton a.k.a The Yellow Rabbit. Pada versi video game sendiri, sosok Vanessa digambarkan seorang security guard namun dipengaruhi untuk menjadi pengikut Glitchtrap menjadi pembunuh berantai berkostum kelinci putih.

Sedangkan anak sebenarnya dari William Afton justru bernama Elizabeth Afton yang merasuki jiwa Circus Baby setelah dia dibunuh oleh animatronik. Terkait hal ini seolah menjadi teka-teki yang belum terjawab untuk penonton. Untuk tujuan membentuk spekulasi bahwa Five Nights at Freddy’s akan menjadi franchise seperti video game-nya.

Jika penonton menyadari bahwa Circus Baby muncul di beberapa scene filmnya terutama ketika Mike bertugas malam di Freddy Fazbear’s Pizza. Pertama kali ketika Mike membuka loker untuk meletakan barang. Kedua ketika memeriksa ruangan yang sebelumnya terjadi peristiwa berdarah. Terakhir, Circus Baby dimunculkan pada post credit scene yang secara tiba-tiba berada di dalam taksi.

Balik ke cerita filmnya, premis pada cerita yang dibuat penulis sebenarnya cukup sederhana, namun untuk membuatnya tidak biasa penulis menjabarkan dengan lebih kompleks. Namun, saat menonton filmnya hal tersebut sebenarnya sedikit kepada memaksakan sebagai tontonan.

Ingin membuat emosi yang mendalam tetapi terlalu luas dalam menjabarkannya. Sesuatu yang timbul di penonton justru menjadi terlalu panjang untuk membangun emosi. Ingin membuat penonton simpati kepada Mike tetapi kembali teralihkan, yang tiba-tiba Abby menjadi bersahabat dengan para animatronik.

Ini pun akhirnya mengurangi sense dari genre yang diusung, yaitu horror-thriller, karena akhirnya melembek dari yang biasanya ditemui dalam film bergenre sama. Untuk sebuah keterkejutan secara mimik mungkin berhasil tetapi secara rasa sedikit kurang untuk sampai ke penoneon pada momen Mike melihat para animatronik menjadi hidup.

Begitu pun untuk membuat rasa gregetan penonton akan karakter antagonis. Penjelasan lebih jauh dan screen time pada karakter Steve Raglan a.k.a William Afton dan Vanessa Afton belum sepenuhnya dilakukan 100 persen. Sekedar menunjukan bahwa William Afton memang sosok antagonis sebagai sang psikopat.

Menyambung dari hal tersebut, penonton bahkan langsung dibawa ke dalam situasi bahwa para animatronik mampu hidup karena dirasuki oleh arwah anak-anak korban William Afton. Fakta yang justru lebih dihanturkan oleh karakter Vanessa Afton ketika berdebat dengan Mike.

Lagi-lagi tidak menunjukan kekejaman dari seorang William Afton sebagai psikopat sadis. Yang menjadi bagian penting dari kekejaman dari para animatronik. Seolah strategi sutradara dan penulis untuk lebih dulu menonjolkan para animatronik di film pertama sebagai ikon dari video game itu sendiri.

Seperti dijelaskan sebelumnya, secara jump scare memang tidak sepenuhnya 100 persen memenuhi bagian dari genre filmnya. Namun, ketika adegan tersebut, rasa deg degan dan terkejutnya penonton karena terbantu scoring yang menempatkan di momen yang pas. Scoring film ini cukup mengingatkan akan film thriller slasher sebelumnya, sebut saja franchise Halloween.

Production company: Blumhouse Productions, Scott Cawthon Productions, Striker Entertainment
DistributorUniversal Pictures
Cast: Josh Hutcherson (Mike Schmidt), Piper Rubio (Abby), Elizabeth Lail (Vanessa Afton), Matthew Lillard (Steve Raglan/William Afton), Mary Stuart Masterson (Aunt Jane), Kat Conner Sterling (Max), David Lind (Jeff), Christian Stokes (Hank), Joseph Poliquin (Carl), Lucas Grant (Garrett), Theodus Crane (Jeremiah); Voice cast: Kevin Foster (Freddy Fazbear), Jade Kindar-Martin (Bonnie), Jessica Weiss (Chica), Roger Joseph Manning Jr. (Foxy), etc
Director: Emma Tammi
Screenwriter: Scott Cawthon, Seth Cuddeback, Emma Tammi
Producers: Jason Blum, Scott Cawthon
Duration1 hours 49 minutes