Review

Review: Everything Everywhere All At Once

77
×

Review: Everything Everywhere All At Once

Share this article

LASAK.iD – Penggemar Marvel Cinematic Universe (MCU) pasti cukup familiar dengan sosok Anthony Russo dan Joseph Russo, yang dikenal sebagai duo Russo atau Russo Brother. Menyutradarai empat film sukses dari MCU secara tidak langsung menjadi identitas tersendiri untuk Russo Brother.

Melanjutkan tren atau justru ketagihan dengan film bertemakan science fiction (sci-fi) action adventure, Russo Brother kembali dengan film berjudul Everything Everywhere All at Once. Bukan sebagai sutradara atau penulis, Russo Brother kali ini memegang kendali sebagai produser.

Posisi sutradara justru dipercayakan pada duo lainnya yang dikenal sebagai Daniels, yaitu Daniel Kwan dan Daniel Scheinert. Everything Everywhere All at Once sekaligus menjadi comeback keduanya bersama sebagai sutradara sekaligus penulis. Terakhir kali dilakukan pada 2016 lalu untuk film berjudul Swiss Army Man.

Kedua duo ini memiliki ciri tersendiri, tak jarang ide dan fantasi yang liar tertuang di setiap karya film mereka. Keliaran itu kini berada dalam satu projek film berjudul Everything Everywhere All at Once. Masih mengusung tema sci-fi action adventure, kerjasama keduanya bisa menghasilkan film tidak biasa atau mungkin juga luar biasa.

Terlihat dalam film Everything Everywhere All at Once, Daniels yang juga menulis ceritanya membuat film menarik tentang hal yang dibawa Russo Brother di karya MCU, yaitu multiverse.

Tak ingin terjebak dari sebelumnya yang benar-benar melibatkan penjahat dalam dunia multiverse. Daniels justru mengemas konfliknya dengan hal yang related dengan penonton. Tentang hubungan keluarga, antara orang tua kepada anaknya.

Namun keseluruhan film, Evelyn (Michelle Yeoh), Joy (Stephanie Hsu) dan Waymond (Ke Huy Quan) yang digambarkan sebagai keluarga ternyata masing-masing memiliki kepentingan yang mengarah pada karakter Evelyn.

Joy dari salah satu ribuan kehidupan adalah anak muda oleh Evelyn dijadikan objek untuk bisa mengakses ribuan kehidupan dirinya di multiverse. Percobaan yang berhasil namun justru membuat Joy menjadi sosok yang antagonis bernama Jobu Tupaki.

Kemampuan yang dimiliki Jobu Tupaki nyatanya membuat tatanan dalam multiverse menjadi berantakan. Apalagi Jobu Tupaki sedang membangun pemusnah massal bernama Bagel. Sebuah lubang hitam yang bisa menghisap semua kehidupan di multiverse.

Itu yang menjadi alasan kehadiran Waymond dan Gong Gong (James Hong) dari dunia bernama Alphaverse atau versi lainnya untuk menyelamatkan dunia multiverse dari Jobu Tupaki.

Pengaruh multiverse dari Marvel Cinematic Universe (MCU) memang tak terlepas dengan keberadaan Russo Brother dalam film Everything Everywhere All at Once. Dibandingkan empat filmnya terdahulu, kemiripan justru lebih mengarah pada film Marvel lainnya, yaitu Doctor Strange in the Multiverse of Madness.

Di mana karakter utama mampu memasuki kehidupan dirinya di masa lalu atau masa depan. Konsep yang juga dilakukan Everything Everywhere All at Once. Tapi kali ini bukan dengan kekuatan sihir melainkan kemajuan teknologi, seperti pada film Matrix dan Ready Player One.

Namun, pada Everything Everywhere All at Once menarik ketika menyatakan cinta, mengompol, memasukan lalat melalui hidung hingga memasukan benda seperti tongkat ke bokong menjadi hal konyol untuk setiap orang bisa mengakses kehidupannya yang lain.

Seperti naik level pada sebuah permainan gim, juga sesuatu yang tidak biasa yang dilakukan oleh Daniels. Melihat kebanyakan film akan melakukannya secara estetika. Saking konyolnya adegan-adegan tersebut, justru menjadi unsur komedi dalam filmnya.

Selain itu, untuk membuat Everything Everywhere All at Once tak sepenuhnya seperti MCU, Daniels mencoba mengambil latar pada satu sisi kehidupan orang Chinese, yang tinggal di luar negeri.

Itulah drama keluarga menjadi benang merah, tentang hubungan orang tua dengan anak. Hal yang dekat dan related dengan kehidupan sehari-hari. Tetap dikemas dengan konflik yang kompleks namun juga tidak membuatnya terlihat rumit.

Selain drama keluarga, kunci untuk memahami film Everything Everywhere All at Once adalah alat yang dipakai di telinga oleh para karakter. Banyaknya dialog panjang antara karakter yang didalamnya juga terselip istilah ilmu fisika mungkin untuk sebagian penonton butuh waktu untuk memahami maksud filmnya.

Juga untuk memahami perpindahan scene yang bisa secara tiba-tiba dilakukan terlebih pada karakter Evelyn. Salah satunya scene yang seolah menunjukkan seribu wajah dari seribu kehidupan dari Evelyn.

Judulnya yang panjang ternyata menunjukkan setiap bagian dalam filmnya. Bagian pertama, Everything menjelaskan tentang para karakter tetap dengan fokus pada Evelyn yang bisa menjadi apa saja. Bagian kedua, Everywhere untuk Evelyn yang bisa di mana saja. Terakhir, bagian ketiga, All at Once, karakter Evelyn yang sudah tahu kemampuannya bisa melakukan apa saja dan berada di mana saja dengan mudah. Atau mengerti sepenuhnya tentang multiverse. Walau pada akhirnya semuanya mengarah kepada drama keluarga antara Evelyn, Joy, Waymond juga Gong Gong.

Everything Everywhere All at Once menjadi film rekomen untuk kalian yang menyukai film dengan genre sci-fi action adventure. Film yang mungkin akan membuat otak kalian berpikir lebih untuk memahami filmnya. Tetapi bukan juga film dengan tingkat kerumitan yang tinggi. Di sini juga kalian bisa melihat akting konyol dari aktris dunia Michelle Yeoh sebagai Evelyn yang mengundang tawa.

Production company: A24, IAC Films, Gozie AGBO, Year of the Rat, Ley Line Entertainment
Distributor: A24
Cast: Michelle Yeoh (Evelyn), Stephanie Hsu (Joy/Jobu Tupaki), Ke Guy Quan (Waymond), James Hong (Gong Gong), Jamie Lee Curtis (Deirdre Beaubeirdre), Jenny Slate (Debbie “Big Nose”), Harry Shum Jr. (Chad), Tallie Medel (Becky), etc
Director: Daniel Kwan, Daniel Scheinert
Screenplay: Daniel Kwan, Daniel Scheinert
Producers: Daniel Kwan, Daniel Scheinert, Joe Russo, Anthony Russo, Jonathan Wang, Mike Larocca
Duration: 2 hours 20 minutes