Review

Review: Creed III, Antara Tinju, Masa Lalu dan Persaudaraan

66
×

Review: Creed III, Antara Tinju, Masa Lalu dan Persaudaraan

Share this article
photo by Oscar Prajnaphalla - Warner Bros Pictures

LASAK.iDCreed yang merupakan spin-off dari serial film terkenal berjudul Rocky mengikuti jejak tersebut dengan memiliki universe-nya tersendiri. Di mulai dari tahun 2015 untuk film pertamanya kemudian berlanjut dengan sekuel-nya di tahun 2018.

Respon positif ditunjukkan penonton untuk kedua film dari Creed tersebut. Sylvester Stallone sebagai kreator sekaligus produser film Creed mencoba melanjutkan tren positif tersebut dengan kembali memproduksi kelanjutan filmnya.

Di trilogi-nya kini Sylvester Stallone sepertinya tidak terlibat lebih banyak seperti dua film sebelumnya, baik muncul dengan karakternya sebagai Rocky Balboa maupun dalam development cerita filmnya. Dengan keterlibatan lebih dari Michael B. Jordan yang mengambil alih kursi sutradara untuk film Creed III.

Terlihat dan sesuai dengan pernyataan dari Michael B. Jordan terkait trilogi dari Creed. Ia ingin lebih menyentuh sisi terdalam dari karakter Adonis Creed yang dimainkannya, melalui peristiwa masa lalu dan perjalanan kehidupan di masa kini.

Berkaca dari film-film dengan universe-nya selalu memiliki benang merah filmnya yang saling berkesinambungan satu dengan lainnya. Begitu pun dengan Creed Universe, yang fokusnya masih pada Adonis Creed (Michael B. Jordan) pada karakter dan dunia tinju pada keseluruhan cerita.

Meski begitu, Universe Creed sebenarnya memiliki kekhasan di setiap produksi, film trilogi dari judul Creed selalu dengan penulis dan sutradara berbeda. Pertama dan kedua masih cukup terlihat keidentikan satu sama lain, dengan masih bayang-bayang nama besar dan masa lalu dari Rocky Balboa.

photo by Oscar Prajnaphalla – Warner Bros Pictures

Pembeda yang jelas sekali dilakukan Michael B. Jordan bersama penulis Keenan Coogler dan Zach Baylin, dengan memberikan ruang untuk drama yang lebih luas juga dengan kompleksifitas konflik lebih dari film sebelumnya.

Namun, Creed III dalam membagi setiap bagian ceritanya masih membawa pengaruh dari film sebelumnya. Di awal selalu menampilkan scene yang menjadi trigger dari konflik sang karakter utama, yang pada akhirnya sang karakter menemukan penyelesaian konflik yang dihadapi melalui pertarungan di atas ring.

Michael B. Jordan pun terasa jelas memiliki ambisi untuk film yang disutradarainya, tak hanya memperlihatkan sisi berbeda dan mendalam untuk perannya. Ia pun bermain dengan pergerakan kamera yang menjadi bagian dari sinematografi.

Termasuk dengan visual effect yang juga digunakan, terutama pada bagian yang menampilkan petarungan di atas ring. Antara Felix Chavez (Jose Benavidez) dengan Damian “Dame” Anderson (Jonathan Majors) juga Adonis Creed dengan Damian “Dame” Anderson.

Pada film sebelumnya sutradara melakukannya dengan nyata pada penonton, kini Michael B. Jordan lebih bermain dengan visual effect dan itu terasa sekali ketika mata melihat. Hanya saja yang terlihat mata pun masih belum smooth.

Bukan juga hasil yang dikatakan jelek apalagi gagal, hanya saja ketika diperlihatkan pada angle tertentu akan terlihat sekali itu bukanlah hasil dari pengambilan gambar yang sesungguhnya. Ada kalanya, momen krusial dari sebuah film yang seharusnya lebih terasa di penonton dengan adegan sesungguhnya menjadi kurang ketika dilakukan atau ditambahkan dengan hal seperti visual effect atau green screen.

Kembali dengan konflik yang dibangun pada filmnya, Creed III menjadi cukup menarik ketika film tersebut memiliki ending yang sebenarnya mudah tertebak penonton, jika berkaca dari dua film sebelumnya.

Ketertarikan yang akhirnya menjadi rasa penasaran pada proses terbangunnya konflik antara sang protagonis dengan sang antagonis. Pada bagian ini terbentuk imajinasi penonton yang terbagi pada dua kemungkinan, antara kemungkinan pertama atau kemungkinan kedua akan konflik yang terbangun.

Lagi-lagi penonton diajak bermain imajinasi, diajak ikut terlibat dalam cerita bukan sekedar menjadi penonton yang menikmati sebuah tontonan. Ada kalanya penulis sudah menggiring hasil yang sama seperti yang terbayang di penonton. Pada akhirnya penulis membuat kejutan yang justru membelokan hasilnya.

Tak heran dengan berbagai macam hal yang disuguhkan, mulai dari film pertama hingga yang ketiga memiliki daya tarik untuk penonton terlebih penggemar filmnya untuk menantikan kelanjutannya. Dengan kata lain film continuity yang ditunggu untuk setiap filmnya.

Production company: Metro-Goldwyn-Mayer, Chartoff-Winkler Productions, Proximity Media, Outlier Society
Distributor: Warner Bros Pictures
Cast: Michael B. Jordan (Adonis “Donnie” Creed), Tessa Thompson (Bianca Taylor), Jonathan Majors (Damian “Dame” Anderson), Wood Harris (Tony “Little Duke” Evers Jr.), Florian Munteanu (Viktor Drago), Phylicia Rashad (Mary Anne Creed), Mila Davis-Kent (Amara Creed), etc
Director: Michael B. Jordan
Screenwriter: Keenan Coogler, Zach Baylin
Producers: Irwin Winkler, Charles Winkler, William Chartoff, David Winkler, Ryan Coogler, Michael B. Jordan, Elizabeth Raposo, Jonathan Glickman, Sylvester Stallone
Duration: 1 hours 56 minutes