CinemaFilmReview

Review: A Quiet Place: Day One, Awal Dunia Menjadi Hening

190
×

Review: A Quiet Place: Day One, Awal Dunia Menjadi Hening

Share this article

A Quiet Place: Day One merupakan sebuah EP besar yang melanjutkan kesuksesan dari film sekuel sebelumnya yang tayang pada 2018 dan 2020.

LASAK.iD – Pada 2018 dan 2020 lalu, melalui film sekuel A Quiet Place, penikmat film diajak melihat dunia yang tidak lagi bersuara. Ini akibat dari teror mahkluk asing yang tidak memiliki mata tetapi peka terhadap suara. Manusia seakan terkunci di ruang hampa di planetnya sendiri, yaitu bumi.

Populasi mahkluk hidup di bumi terancam punah jika tidak menemukan cara untuk mengatasi invasi dari mahkluk asing tersebut. Akhirnya hanya sebagian dari manusia di bumi yang berani melawan dan sebagian dari mereka hanya mencari cara untuk bertahan hidup di tempat yang tidak bisa dijangkau mahkluk tersebut.

Pada film sekuel-nya, penikmat film disuguhkan dengan cerita setelah 474 hari atau satu tahun lebih dari kedatangan mahkluk asing dan meng-invasi bumi. Kali ini, sesuai dengan judulnya A Quiet Place: One Day, penikmat film akan melihat bagaimana mahkluk asing tiba yang kemudian menyerang dan menculik setiap manusia yang mengeluarkan suara karena panik.

Baca juga: Review A Quiet Place Part II: Babak Baru Dari Keluarga Abbott

Sinopsis

Cerita kali ini digambarkan melalui karakter Sam, seorang wanita kulit hitam yang menderita kanker yang memaksanya hidup di sebuah hospice untuk mendapatkan perawatan dan menghabiskan sisa hidupnya. Sam mengidap kanker yang sama, yang merenggut nyawa Ayahny.

Sam kini hanya berteman dengan seekor kucing putih dengan corak hitam di beberapa bagian tubuhnya bernama Frodo. Juga seorang perawat laki-laki yang bekerja di hospice bernama Reuben. Suatu hari hospice tempat Sam dirawat mengadakan perjalanan ke kota untuk menonton pertunjukan boneka.

Awalnya Sam menolak, namun Reuben yang berjanji akan membeli pizza sesampainya di kota yang membuat Sam mengiyakan. Selesai menonton pertunjukan, Reuben mendapat panggilan yang memaksa mereka untuk segera kembali karena ada hal yang darurat. Sam yang kecewa tidak bisa membeli pizza, naik bus dengan wajah marah dan kecewa.

Tak lama dari Sam dan pasien lainnya naik ke atas bus, tiba-tiba dari luar bus suara kegaduhan terdengar samar-samar dan merujuk pada arah langit. Terlihat puluhan bahkan ratusan meteor telah memasuki atmosfer Bumi. Tak lama berselang terdengar suara ledakan dahsyat tak jauh dari bus yang hospice parkir.

Sontak hal tersebut membuat kegaduhan semakin menjadi, hingga muncul mahkluk asing dengan ukuran besar mulai mengejar dan menangkap satu per satu manusia. Saat yang lainnya termasuk Sam mengira alien menculik secara random, namun mulai menyadari bahwa suara yang memicu mereka untuk menangkap.

Sam yang panik terus mencari perlindungan hingga akhirnya dia pingsan karena benturan yang keras akibat ledakan lainnya. Setelah sadar, Sam kembali berada di dalam panggung pertunjukan bersama yang lainnya. Reuben yang melihat temannya selamat segera memeluk Sam, dengan segera mengecek kondisi temannya itu.

Cukup lama mereka berdiam diri dalam gedung, ketika keduanya bersantai di bagian belakang gedung, Sam mengatakan akan ke Harlem untuk membeli pizza. Reuben melarang karena hal itu sangat berbahaya. Saat sedang berbincang dengan menggunakan buku, tak lama keduanya dikejutkan dengan kebisingan yang ditimbulkan oleh genset gedung tersebut.

Reuben dengan segera mematikannya dan berhasil kembali membuat keheningan, namun saat Reuben membalikan badan, ujung dari pakaiannya tersangkut dan membuat suara di tengah keheningan. Tentu hal tersebut membuat keduanya panik bukan main. Tak selang berapa lama benar saja, alien muncul dari arah kanan Reuben dan membawanya entah kemana.

Kehilangan temannya, Sam membulatkan tekad untuk keluar dan berjalan menuju Harlem, yang ternyata baru diketahui menjadi tempat tinggal dari Sam, sekaligus kenangan bersama sang Ayah yang merupakan musisi jazz di sana. Saat kecil, Sam sering diajak untuk melihat Ayahnya tampil di sebuah bar dan setelah selesai di perjalan pulang itulah Sam akan dibelikan pizza dari restoran bernama Patsy’s.

Itulah kenapa Sam memaksa untuk membeli pizza di kawasan bernama Harlem. Selama perjalanan, Sam mengalami beberapa kejadian yang membuatnya mulai merasakan nyeri di sekujur tubuh karena penyakitnya yang kambuh. Di situlah, Sam bertemu dengan seorang bernama Eric, mahasiswa hukum dari kota New York.

Eric yang merasa ketakutan dan panik terus membuntuti Sam, merasa tidak nyaman dan melihat wajah orang asing tersebut yang memelas, Sam pun mengizinkan pria tersebut untuk ikut dengannya. Hujan yang turun memaksa mereka untuk berteduh di rumah Sam yang letaknya tak jauh dari tempat keduanya bertemu. Sekaligus menghangat tubuh sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Perjalanan yang tidak mudah untuk keduanya, berbagai kejadian mereka dapatkan, dari kambuhnya penyakit Sam hingga dikejar oleh alien di sebuah terowongan kereta bawah tanah. Keduanya berhasil selamat karena alien tersebut tidak nyaman berada di air, yang membuat mereka otomatis mati.

Dengan susah payah, Sam akhirnya sampai di depan restoran pizza favoritnya, Patsy’s yang berada di Harlem. Sayangnya, tempat tersebut sudah porak-poranda karena serangan dari alien. Melihat Sam kecewa, Eric menanyakan bar tempat ayah Sam bermain piano. Hal yang diingat Eric saat Sam menceritakan singkat tentang dirinya dan keluarganya saat berteduh.

Keduanya menghabiskan waktu sejenak di bar tersebut, Eric pun memberikan kejutan dengan sekotak pizza walau berasal dari toko lain tak jauh dari bar tersebut. Eric berhasil sedikit mengobati kekecewaan temannya tersebut dan menghiburnya dengan sulap kartu sebagai hiburan untuk Sam.

Setelahnya, mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah dermaga dan melihat sebuah kapal yang bersiap untuk melakukan perjalanan. Namun, butuh sebuah perjuangan dan keberanian karena alien telah mengelilingi dermaga tersebut. Mereka tidak bisa menyerang karena perahu telah berada di tengah perairan.

Sam yang merasa tidak akan bisa bertahan dan merasa sudah berada di rumah merelakan diri sebagai umpan untuk membuka jalan Eric mengejar perahu tersebut. Itulah kenapa Sam memberikan Frodo termasuk cardigan mustard yang ternyata sebelumnya milik Ayahnya yang sering dipakai ketika tampil bersama grup jazz-nya.

Baca juga: John Krasinski: A Quiet Place Tak Direncanakan Menjadi Waralaba

Ketegangan yang lebih

Film ketiga dari franchise A Quiet Place, kini hadir dengan nahkoda baru, Michael Sarnoski sebagai sutradara, yang turut menulis cerita filmnya bersama John Krasinski dan Bryan Woods. Meski berbeda pada kursi sutradara, ketegangan yang telah diciptakan oleh John Krasinski untuk film sekuel-nya masih sangat terbawa dalam film ketiganya.

Ketegangan yang sama, yang membawa alam sadar penonton menuntunnya untuk ikut terdiam, bahkan tanpa sadar ikut menahan nafas beberapa waktu ketika para karakter berhadapan dengan para alien yang muncul dihadapan mereka.

Bahkan banyak momen dalam filmnya kini yang berjudul A Quiet Place: One Day memberikan ketegangan yang sedikit lebih dari film sebelumnya. Sesuai dengan judulnya A Quiet Place: One Day, filmnya membawa ke hari pertama para alien datang ke Bumi dalam bentuk asteroid.

Mereka yang kaget dan tidak tahu yang terjadi tentu menimbulkan kepanikan dan tidak memiliki persiapan hingga pengetahuan yang membuat ketegangan menjadi 2 kali lipat. Di sini, diperlihatkan bagaimana sadis dan ganasnya para alien yang berjumlah ratusan menyerang dan menculik manusia, karena pada film sebelumnya hanya diperlihatkan satu sampai tiga alien saja.

Drama yang lebih ditonjolkan

Sama dengan film sekuel-nya, tentu drama menjadi bumbu pemanis bahkan trigger untuk cerita filmnya yang berfokus kepada keluarga Abbott yang berjuang untuk selamat dengan mencari tempat perlindungan lainnya tanpa ketakutan akan serangan dari alien.

Untuk filmnya kini, drama ditonjolkan pada karakter Sam yang diperankan aktris Lupita Nyong’o, sebagai seseorang yang mengidap kanker yang ternyata memiliki kaitan erat tentang obsesinya yang ingin sekali membeli pizza yang berada di Harlem.

Meski benang merah akan drama tetap sama tentang bertahan hidup dari film franchise A Quiet Place. Hanya saja, ketika menilik akan judul untuk prekuel-nya, A Quiet Place: One Day. Filmnya jelas mengindikasikan kembali ke hari pertama alien datang untuk menyerang dan menculik mahkluk bumi.

Penikmat film tentu menantikan dan membayangkan sajian yang lebih banyak tentang para survival dalam menghadapi alien. Adegan-adegan pada umumnya film ber-genre apocalyptic, akan chaos-nya berbagai belahan bumi yang dalam filmnya karena serangan alien.

Misalnya, memberikan gambaran global yang lebih baik tentang berapa banyak negara dan wilayah yang telah sangat terpengaruh yang dalam film sebelumnya disebutkan mendapat serangan bahkan menjadi tempat pendaratan pertama dari alien, seperti Rusia, Inggris, Meksiko, Kolombia, Tiongkok, Singapura hingga India.

Namun, A Quiet Place: One Day ternyata lebih menonjolkan pada drama yang dibangun karakter Sam dan Eric. Lebih tepatnya, durasi screen time dari kedua karakter yang lebih menonjolkan drama jauh lebih panjang dibandingkan ketegangan adegan dari para survival.

Meski ini menjadi sebuah trigger sekaligus penghubung untuk penikmat film akan film A Quiet Place Part II. Ini terkait dengan adegan karakter Regan Abbott yang mendarat di sebuah pulau yang dihuni sekelompok besar orang yang terlihat hidup tenang.

Saat itu, yang memimpin para survival adalah seorang laki-laki paruh baya yang diketahui bernama Henri yang diperankan Djimon Hounsou. Sosok yang kembali dimunculkan dalam film ketiganya A Quiet Place: One Day, meski tidak memiliki banyak adegan. Namun, hal ini menjadi penghubung dari universe A Quiet Place.

Film yang belum selesai

Film franchise A Quiet Place sama dengan beberapa judul film lain yang memiliki genre serupa, yaitu apocalyptic, dengan alien sebagai sang protagonis. Sebuah EP menarik yang bisa memiliki banyak sudut cerita untuk dibuatkan film berkelanjutan. Meski, seringnya juga akhir filmnya dibuat seakan semua konflik atau cerita berhenti di karakter tersebut.

Untuk A Quiet Place: One Day, walau menjadi trigger dari film sebelumnya, namun banyak hal yang sebenarnya masih menjadi misteri. Penjelasan yang lebih gamblang tentang urutan peristiwa atau tentang alien itu sendiri. Potensi untuk menciptakan film berkelanjutan, seperti film seri Resident Evil.

Filmnya memang dibuat tidak sesadis dan berdarah-darah seperti Resident Evil, namun EP dari A Quiet Place sudah kuat dengan ciri khasnya tentang sunyi. EP menarik yang akan ditunggu akan dibuat seperti apa lagi ceritanya oleh John Krasinski kedepannya. Meski John Krasinski sendiri di 2021 lalu sempat membuat pernyataan bahwa tidak berniat membuat filmnya menjadi waralaba.

Meski saat menunggu hingga akhir filmnya (credit title), pihak Paramount Pictures ternyata tidak menyelipkan credit post yang mengindikasikan akan ada keberlanjutan dari filmnya. Jadi, penikmat film tunggu kabar dari rumah produksi untuk film A Quiet Place.

Production company: Platinum Dunes, Sunday Night Productions
Distributor: Paramount Pictures
Cast: Lupita Nyong’o (Sam), Joseph Quinn (Eric), Alex Wolff (Rueben), Djimon Hounsou (Henri), Eliane Umuhire (Zena), etc
Director: Michael Sarnoski
Screenwriter: Michael Sarnoski, John Krasinski, Bryan Woods
Producers:Michael Bay, Andrew Form, Bradley Fuller, John Krasinski
Duration: 1 hours 39 minutes

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x