Review

Film Musikal Buku Harianku Jadi Tontonan Untuk Semua Umur

68
×

Film Musikal Buku Harianku Jadi Tontonan Untuk Semua Umur

Share this article

LASAK.iD – Triwulan pertama tahun 2020, bioskop tanah air sudah dipenuhi film dari dalam maupun luar negeri. Film produksi sineas tanah air sendiri hingga jelang pertengahan Maret ini masih di dominasi dengan genre drama dan horor. Beberapa diantaranya pun tercatat menorehkan jutaan penonton.

Tak di pungkiri genre drama hingga horor masih jadi pilihan tontonan penikmat film tanah air. Meski begitu Bro’s Studio dan BlueSheep Entertainment hadir untuk melawan arus dengan merilis film berjudul Buku Harianku. Film yang ditulis oleh Alim Sudio ini merupakan sebuah drama petualangan yang dibalut dalam sebuah musikal. Di sutradari Angling Sagaran film Buku Harianku ini akan tayang mulai 12 Maret 2020.

Film ini banyak menampilkan musik serta lagu yang dilakukan sejak awal oleh karakter anak-anak, seperti Kila (Kila Putri Alam) dan Rintik (Widuri Puteri). Walau begitu, film ini ternyata membawa misi bahwa Buku Harianku sebagai tontonan untuk semua umur. Alasan pastinya terlihat dengan porsi yang diberikan penulis untuk karakter anak-anak dan dewasa cukup seimbang. Tetap dalam konteks dan ramah untuk anak-anak pastinya.

Porsi lain yang membuat film ini wajib jadi list tontonan kalian jika datang ke bioskop karena kerjasama apik dari duo Alim Sudio sebagai penulis dan Angling Sagaran sebagai sutradara. Sutradara berhasil merepresentasikan cerita yang memang sudah di bangun oleh penulis sebelumnya ke dalam setiap adegan. Melakukannya dengan total dan sepenuh hati, sutradara seolah memberikan nyawa lainnya kedalam film Buku Harianku.

Pesan Tersampaikan Lewat Dialog Yang Nyaman Di Telinga

Angling mampu mengemas pesan yang ingin disampaikan filmnya dengan sangat sederhana. Hal yang banyak digambarkan melalui karakter Kila, bahwa pengorbanan tak selalu berdera air mata namun bisa juga dalam kebahagiaan. Salah satunya saat Kila rela menanggalkan phobia terhadap sayuran demi sang kakek.

Penulis dan sutradara melalui Buku Harianku ingin mengajak dan mengenalkan kembali literasi kepada semua orang khususnya untuk anak-anak. Hal yang ditunjukkan melalui dua karakter utamanya, yaitu Kila dan Kakek Prapto yang rajin menulis buku harian.

Untuk itu, penggunaan gadget tidak menjadi highlight di film ini. Penggambaran gadget dalam film jauh lebih bijak. Sekedar untuk menggali informasi bermanfaat yang salah satunya terkait penyakit alzheimer.

Tak ketinggalan karakter anak-anak menunjukkan betapa pentingnya memahami bahasa isyarat. Pesan-pesan filmnya tersampaikan dengan baik melalui dialog antar pemain maupun lagu yang nyaman di telinga. Sehingga terasa sangat pas atau tidak berlebihan.

Debut Akting Yang Pas

Selain nama besar seperti Slamet Rahardjo, Dwi Sasono, Widi Mulia, Ence Bagus hingga Gary Iskak. Akting dari Kila Putri Alam untuk debutnya di layar lebar pun berhasil. Keberhasilan melalui chemistry yang dibangun oleh Kila dan Slamet Rahardjo sebagai cucu dan Kakek. Soal menyanyi memang sudah menjadi makanannya, karena profesi asli Kila Putri memang penyanyi cilik. Termasuk Widuri Puteri yang sukses memerankan Rintik. Seorang anak berkebutuhan khusus karena keterbatasan dalam berbicara. Walau ini bukan pertama kalinya Widuri bermain di layar lebar.

Musik dan Lagu Sangat Menggambarkan Filmnya

Membahas film musikal, pastinya dipenuhi banyak musik, lagu hingga tarian dari para pemainnya. Tapi tak dipungkiri, menyangkut film musikal para penonton bisa pada titik bosan. Hal ini karena musik maupun lagu yang ditampilkan belumlah familiar. Apalagi untuk film musikal musik yang diusung sangat berbeda dari musik dan lagu yang banyak beredar di pasaran.

Sepertinya hal itu tidak berlaku untuk film Buku Harianku, musik dan lagu yang dibuat oleh Alfa Dwiagustiar dan Irvan Natadiningrat ternyata mampu mematahkannya. Apalagi untuk film produksi dalam negeri. Buku Harianku sedikit mengingatkan film yang tayang di awal dekade 2000-an, yaitu Petualangan Sherina. Film tersebut sangat membekas tak hanya dari sisi tontonan namun lagu-lagu yang dihadirkan. Diharapkan hal serupa juga dapat dicapai untuk film Buku Harianku yang memang sudah dalam jalur tersebut.

Plot Twist Dihadirkan Yang Mengubah Klimaks Filmnya

Plot menjadi kejutan lain yang dihadirkan Buku Harianku. Terkait plot maju-mundur akhir-akhir ini banyak film Indonesia menggunakannya. Namun berbeda jika itu adalah plot twist. Apalagi untuk produksi sebuah drama maupun musikal di dalam negeri. Walau beberapa film tanah air sudah ada yang melakukannya.

Pada film Buku Harianku, yang menampilkan plot twist ini memang hanya satu scene jelang seperempat ending filmnya. Hal yang ternyata memberikan perbedaan untuk klimaks filmnya. Walau scene itu dihilangkan pun tidak akan mengubah hasil atau keseluruhan ceritanya.

Plot twist sebenarnya memiliki resiko jika digunakan dalam produksi film. Jika gagal dalam melakukannya, sutradara bisa mengacaukan inti cerita sebuah film yang sudah terbangun sejak awal. Begitu pula sebaliknya, plot twist justru bisa menguatkan inti cerita dan benar-benar memberikan efek kejut dari sebuah film.

Karakter Antagonis Kurang Kuat

Film ini memang sudah pas dalam segala aspek. Namun sebenarnya karakter antagonis yang diperankan Gary Iskak sebagai agent developer bernama Samsudi yang menghadirkan konflik untuk para karakter protagonis bisa dibuat lebih kompleks. Bumbu lain dalam film yang bisa membuat cerita lebih beragam dan memberikan rasa gregetan yang lebih lagi.

Kelebihan dan kekurangan menjadi dua hal yang saling berkaitan dalam film. Untuk Buku Harianku menjadi list yang recommended untuk di tonton mulai 12 Maret 2020.