Film

Teman Tidur Bawa Pengaruh Film Horror Asia hingga Hollywood

100
×

Teman Tidur Bawa Pengaruh Film Horror Asia hingga Hollywood

Share this article

LASAK.iDTeman Tidur produksi Robagu Pictures, Drelin Amagra Pictures dan Shandiego Production siap menyapa penikmat film tanah air. Perilisan film karya sutradara Ray Nayoan bertepatan dengan Hari Film Nasional atau 30 Maret 2023 mendatang.

Film yang ditulis Asaf Antariksa dan Gea Rexy, mengambil problematika bullying yang kerap terjadi di masyarakat Indonesia dan hampir di seluruh belahan dunia. Terutama yang terjadi di kalangan remaja pada lingkungan sekolah.

Problematika yang sering kali menimbulkan keresahan karena pelaku bullying tidak hanya melakukannya secara verbal tetapi juga non verbal (fisik). Tak sedikit kasus yang akhirnya membuat korban harus meregang nyawa bahkan meninggal dunia karena luka yang diterima atau karena bunuh diri.

Keresahan yang membawa kepedulian untuk memberikan edukasi melalui film berjudul Teman Tidur. Dengan tujuan masyarakat bisa speak up untuk memutus mata rantai dari bullying. Teman Tidur bukan juga drama, penulis justru usung genre horror thriller untuk cerita filmnya.

Di film kenapa ada wujud Kelly karena itulah yang selalu menghantui kita. Film ini mengajarkan kita speak up untuk menghentikan bullying kalau tidak akan terus berjalan terus menerus“, ungkap Ray Nayoan.

Horror filmnya pun bukan sepenuhnya jump scare yang menakutkan, kaget dan deg-degan tetap ada namun tidak hadir secara intens. Kelly (Mutiara Sofya) yang digambarkan sebagai arwah pendendam hanya menuntut maaf dari perundungnya, yaitu Adam (Baskara Mahendra), Baskara (Khan Theux), Claudia (Gesya Shandy) dan Rani (Deanda Puteri).

Begitu pun dengan Amanda (Givina Lukita Dewi), siswi baru di asrama yang sebenarnya tidak tahu-menahu justru ikut terseret di situasi yang sama karena berteman dengan Adam, Baskara, Claudia dan Rani. Penceritaan yang pada akhirnya Teman Tidur lebih menampilkan sudut cerita thriller dibandingkan horror.

Jika beranggapan akan menonton adegan berdarah yang mengerikan untuk thriller-nya, itu pun tidak. Kematian karakter dibuat seolah bunuh diri mengikuti konflik karakternya, misalnya Claudia yang dibuat overdosis obat tidur karena depresi ditinggalkan kekasihnya Baskara.

Untuk membangun ambience itu, Ray Nayoan dengan warna film yang terinspirasi film karya Nayato pada era 2000-an yang membawa suasana blooding pada warna filmnya. Warna film untuk Teman Tidur di dominasi warna jingga dan hitam mendung untuk mewakili suasana gloomy filmnya.

Tahun 2000-an sempat booming horror Indonesia yang terjadi karena perubahan teknologi dari film ke digital. Saat itu, DSLR sebenarnya tidak bisa masuk bioskop tetapi justru Nayato melakukan untuk film-filmnya. Sekaligus membuat tampilan warna filmnya yang lebih blooding. Hal yang sebenarnya menggambarkan Indonesia sekali“, ungkapnya lagi.

Kesan gloomy pun bukan merujuk pada waktu tertentu tetapi untuk membuat kesan waktu yang menggantung. Alasan Ray Nayoan dengan Teman Tidur membawa penonton ke antah-berantah di tengah hutan untuk tidak merujuk waktu masa lalu, masa sekarang atau masa depan.

Pengaruh lain yang dibawa Ray Nayoan pada karyanya kini datang dari beberapa judul film independet, film horror thriller kelas B hollywood dan film horror Asia terutama Thailand.

Banyak sih, salah satu referensi film dari Thailand dan kebetulan gw juga penggemar film horror Asia. Gw juga banyak mengambil referensi dari film-film kelas B hollywood“, tutupnya.

Judul Teman Tidur dan scoring dengan musik orkestra pun cukup terpengaruh dari banyak film dan series. Di antaranya datang dari series asal Korea Selatan berjudul The Glory. Menilik judul dengan cerita film dan scoring yang ditampilkan cukup kontras satu sama lain. Menariknya, semua itu justru sukses menarik perhatian penonton di banyak negara dan berhasil menyampaikan pesan filmnya.