Film

Culinary Cinema, Menghargai Kreator Film Dan Kreator Makanan

132
×

Culinary Cinema, Menghargai Kreator Film Dan Kreator Makanan

Share this article

LASAK.iD – Satu lagi film karya sineas tanah air masuk dalam ajang bergengsi tingkat dunia, Festival Film Internasional Berlinale 2019 atau dalam bahasa Jerman, Internationale Film Festspiele Berlin 2019.  Aruna dan Lidahnya, film karya sutradara Edwin terpilih untuk maju ke ajang internasional tersebut. Aruna dan Lidahnya merupakan film yang menggabungkan berbagai macam genre, namun yang menjadi fokus utamanya adalah kuliner. Hal tersebut memang sesuai dengan cerita aslinya yang berasal dari novel karya Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama.

Film Aruna dan Lidahnya masuk dalam ajang bergengsi Festival Film Internasional Berlinale 2019 dan mendapat dukungan penuh oleh BEKRAF (dok. Lasak.ID/ Sarah)
Film Aruna dan Lidahnya masuk dalam ajang bergengsi Festival Film Internasional Berlinale 2019 dan mendapat dukungan penuh oleh BEKRAF (dok. Lasak.ID/ Sarah)

Bercerita tentang kuliner membuat film Aruna dan Lidahnya masuk dalam program Culinary Cinema. Mungkin untuk sebagian orang tidak banyak yang mengetahui apa itu Culinary Cinema. Hal itu karena masyarakat atau pecinta film bahkan sineas atau film maker lebih mengenal genre yang secara umum ada di sebuah film, seperti drama, komedi, horor, action, thiller dan lainnya. Culinary Cinema terdengar masih asing di telinga.

Dalam ajang Festival Film Internasional Berlinale program Culinary Cinema memang baru berjalan selama 13 tahun belakangan ini, sejak diselenggarakan pertama kalinya pada 1951. Tahun ini,  untuk program Culinary Cinema panitia mengangkat tema “A Taste for Balance”.

Mengutip dari situs resmi Festival Film Internasional Berlinale atau Internationale Filmfestspiele Berlin, “Culinary Cinema selama ini diadakan sebagai bentuk penghormatan bagi pembuat film yang menggunakan kerajinan mereka untuk memberi penghormatan kepada pekerjaan individu petani, nelayan dan koki. Culinary Cinema merupakan wadah dari pengaplikasian film untuk makanan yang tidak hanya melihat dari sisi kesenangannya saja tetapi dari sisi gelapnya pula. Culinary Cinema faktanya juga tidak sekedar sebuah kuliner tetapi juga terselip nilai budaya. Selain itu, makanan dan film adalah alat komunikasi yang berbicara terutama untuk emosi. Dimana kombinasi keduanya sudah tersebar luas. Dalam Culinary Cinema menonton film dengan makanan itu sebenarnya dua hal yang terpisahkan namun baik film maupun makanan mendapatkan perhatian yang sama. Keduanya bersatu dipikiran kita di waktu yang bersamaan dalam pesta indera yang meninggalkan kesan mendalam”.

Culinary Cinema sendiri ternyata tidak ada di setiap ajang penghargaan serupa. Alasan pastinya memang tidak diketahui, hanya saja jika melihat deretan film yang tayang sepanjang tahun yang berfokus pada kuliner memang masih sangat sedikit dan bisa dihitung jumlahnya.

Semoga dengan terpilihnya Aruna dan Lidahnya dalam program Culinary Cinema dalam ajang Festival Film Internasional Berlinale 2019, membangkitkan kembali keinginan pelaku perfilman tanah air membuat film serupa namun dengan sudut pandang dan alur cerita yang lebih menarik. Film Aruna dan Lidahnya ini mendapatkan dukungan penuh dari Badan Ekonomi Kreatif.

(Sarah)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x