Festival Sinema Prancis Ajak Diskusi Seputar Industri Perfilman
Event

Festival Sinema Prancis Ajak Diskusi Seputar Industri Perfilman 

LASAK.iD – Festival Sinema Prancis kembali bergulir di tahun ini. Untuk edisi ke-24 menjadi terasa spesial karena digelar pertama kali secara hybrid atau secara luring dan daring. Ada sekitar 24 film yang tayang di edisi kali ini, 19 film di antaranya tayang secara luring di 21 lokasi yang tersebar di 13 kota.

Selain penayangan film, FSP juga hadirkan berbagai diskusi menarik seputar industri sinema atau film. Program diskusi yang tentunya berkaitan erat dengan industri sinema atau film. Di awali dengan peranan musik dalam sebuah film dan cabang dalam film yaitu dokumenter.

Peran Musik pada Film

Musik atau lirik lagu selalu memiliki cerita dibaliknya bahkan mewakili perasaan tertentu, seperti lagu mellow yang bisa mendampingi kisah dua kekasih yang bersedih. Atau kisah seru tentang pertempuran hebat yang dipenuhi dengan instrumen simbal dan banyak lagi.

Musik membangkitkan semacam emosi pada pendengarnya dan menambahkan dimensi ekstra pada film. Tanpa musik, nyawa film akan hilang, membuat penonton jauh lebih sulit untuk masuk ke dalam dunia film yang mereka tonton.

Meski begitu, kehadiran musik dalam film acap kali terabaikan di kalangan penikmat film terutama casual watcher. Penonton, cenderung masih lebih memperhatikan kinerja aktor, sutradara, sinematografer atau penulis naskah sebagai faktor utama keberhasilan film.

Selain itu, banyak yang belum mengetahui perbedaan dari film scoring dan soundtrack. Walaupun mereka berhubungan, tetapi ini adalah dua hal yang berbeda. Pemahaman yang dibagikan melalui diskusi Peran Musik pada Film pada Jum’at (14/10) di Auditorium IFI Thamrin, dengan menghadirkan pembicara berpengalaman.

Di antaranya Bembi Gusti sebagai Penata Musik & Drummer SORE dan Estu Pradhana Bramono sebagai Penata Musik & Pemilik Estudio. Klik link ini untuk registrasi.

Tak hanya musik yang menjadi concern diskusi dari penyelenggaraan FSP tahun ini. Film yang memiliki 3 jenis, yang di antaranya dokumenter dan eksperimental yang semakin diminati film maker untuk memproduksi.

Dokumenter & Eksperimental: Panduan Dasar

Berdasarkan dari cara bertuturnya, film terdiri dari 3 jenis, yaitu film dokumenter, film fiksi dan film eksperimental. Dimana film fiksi memiliki cara bertutur naratif yang jelas dari awal sampai akhir film, sedangkan untuk dokumenter dan ekperimental bertutur non-naratif (non cerita).

Saat film dokumenter memiliki konsep realisme (nyata), film eksperimental memiliki konsep surealis (abstrak) dan fiksi berada diantara keduanya. Tapi faktanya, apakah teori ini sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan?

Masih banyak sekali orang yang belum begitu mengerti konsep film eksperimental. Ekperimental merupakan genre yang sulit dipahami dan bisa cukup sulit untuk didefinisikan, terkadang masih ada banyak kesalahpahaman umum tentang pembuatan film eksperimental, salah satunya adalah banyak yang berfikir bahwa genre ini tidak memiliki narasi.

Sama halnya dengan dokumenter, banyak juga yang berfikir bahwa dokumenter tidak memiliki alur cerita, karena menangkap realita. Sehingga membuat audiens dari kedua genre ini menjadi sangat kecil atau niche, khususnya di Indonesia.

Dengan adanya diskusi ini, akan mengulik dunia dokumenter dan eksperimental, mulai dari sejarah, proses, karya-karya, tujuan dan hal menarik lainnya. Dengan Yuki Aditya, Direktur Festival ARKIPEL, Forum Lenteng dan Tonny Trimarsanto, Sutradara Dokumenter sebagai pembicara.

Diskusi ini bertempat di Auditorium IFI Thamrin pada Sabtu, 15 Oktober 2022 pukul 14.00 WIB. Klik link ini untuk registrasi.

Industri Film Dokumenter: Tantangan dan Kesempatan

Film dokumenter memang tak pernah lepas dari realitas. Tetapi Dokumenter tergantung pada perspektif, sehingga setiap karyanya memiliki suara yang berbeda, unik dan otentik, dimana menyajikan suatu point of view yang tidak sama dengan yang lain.

Oleh karenanya, Dokumenter berpotensi besar menggugah dan membuka cara pikir orang dan mendorong orang untuk bergerak dan berbuat sesuatu. Hal ini membuat Film dokumenter memiliki potensi yang amat besar.

Tetapi saat ini, di Indonesia, belum terbangun secara utuh ekosistemnya. Oleh karena itu butuh adanya usaha yang membuat perjalanan berkreasi menjadi berkelanjutan, termasuk industri yang memiliki kesempatan yang membuat pergerakan uang jadi pasti.

Kenyataannya banyak program-program yang mendukung industri film dokumenter untuk dapat mencapai pasar yang lebih luas. Tetapi, kesempatan ini belum banyak diketahui oleh public. Audiens Indonesia pun belum banyak yang menjadikan dokumenter sebagai salah satu alternatif genre film yang dapat diminati di bioskop maupun diluar bioskop.

Roda industri akan terus berjalan jika ada regenerasi sineas film dokumenter dan juga audiens dari film dokumenter itu sendiri, oleh karena itu tantangan industri disini adalah memfamiliarkan dokumenter dan dampaknya kepada publik.

Diskusi ini akan menghadirkan pembicara Yudistira Dilianzia, Manajer Program Distribusi INDOCS dan Mandy Marahimin selaku Produser Film. Masih di lokasi yang sama di Auditorium IFI Thamrin pada Sabtu, 15 Oktober 2022 pukul 16.30 WIB. Klik link untuk registrasi.

Komentarlah yang bijak

Related posts