Ending Yang Menggantung, Pariban: Idola Dari Tanah Jawa Siap Dengan Sekuelnya?
Entertainment

Ending Yang Menggantung, Pariban: Idola Dari Tanah Jawa Siap Dengan Sekuelnya? 

LASAK.iD – Film Indonesia yang rilis setiap tahun beberapa diantaranya memberikan tema berbeda. Salah satunya yang mulai menjadi pilihan adalah film yang bertemakan dan berlatarkan kebudayaan. Entah dijadikan utuh dalam cerita atau sebagian kecil dari budaya tersebut menjadi bagian dari tema film yang di produksi.

Hal itu yang coba juga dilakukan oleh Stay Connected Media untuk produksi film pertamanya. Budaya yang coba dibawa ke dalam film berasal dari Sumatera Utara yaitu Batak. Terlihat pula dari judul filmnya itu sendiri, Pariban: Idola Dari Tanah Jawa.

Film ini sudah tayang di bioskop tanah air sejak 9 Mei 2019 lalu. Mengutip dari akun instagram resmi film Pariban: Idola Dari Tanah Jawa, Stay Connected Media mengklaim hingga penayangannya di hari ketiga sudah mencapai angka 7 juta penonton. Meski di kalimat lainnya kepastiannya akan hal tersebut masih menunggu jumlah pastinya yang dikeluarkan lembaga resmi.

Sinopsis Dan Latar Belakang Cerita

Seperti yang diungkapkan Agustinus Sitorus dalam press conference filmnya beberapa waktu lalu. Pariban: Idola Dari Tanah Jawa sebenarnya tidak mengambil utuh kebudayaan Batak untuk ditampilkan dalam film.

Agustinus yang bertindak sebagai produser dan penulis skenario, untuk Pariban: Idola Dari Tanah Jawa lebih berfokus kepada pemuda Batak yang lahir, besar dan tinggal di luar Medan. Cerita tentang keresahan mereka terhadap tanah leluhurnya. Tidak bisa dipungkiri dengan lahir dan besar di luar Batak, ada hal terkait bahasa, kebiasaan dan lainnya akan mengikuti sesuai tempat kita dibesarkan.

Namun dalam film Pariban: Idola Dari Tanah Jawa hal tersebut coba diceritakan lewat dua karakter utamanya, Halomoan Brandon Sitorus yang diperankan Ganindra Bimo bersama dengan Uli yang diperankan Atiqah Hasiholan.

Moan merupakan pemuda Batak namun lahir, besar dan tinggal di Ibukota, Jakarta. Saat ini dirinya merupakan pemuda tampan dan sukses. Kehidupannya pun mengikuti yang ada di Jakarta, mulai dari bahasa, fashion, makanan hingga masalah asmara.

Terkait asmara, Halomoan terkenal sebagai seorang playboy. Bahkan 7 hari dalam seminggu pacar yang dimiliki pun berbeda-beda. Namun cara pandangnya tentang cinta dan asmara berubah saat dirinya harus menuruti tradisi dan budaya Batak terkait Pariban.

Moan harus kembali ke tanah leluhurnya di Medan, Sumatera Utara dengan terpaksa untuk menemui Paribannya bernama Uli yang diperankan Atiqah Hasiholan dengan terpaksa. Moan menganggap perjodohan adalah sebuah hal kuno, apalagi tidak pernah melihat sosok Uli yang menjadi Paribannya. Apalagi selama 35 tahun, itu pertama kalinya Moan menginjakan kaki di tanah Batak.

Sejak awal selalu menentang tentang tradisi Pariban, secara tiba-tiba berubah dengan menerimanya setelah melihat kecantikan dari Uli. Selama sepekan tinggal bersama Tulang (sebutan paman dalam tradisi Batak), Moan mencoba meyakinkan Uli bahwa mereka merupakan Pariban.

Sayang usahanya harus terhalang dengan sosok Binzar yang diperankan Rizky Mocil. Binzar telah menaruh hati kepada Uli sejak lama dan berniat untuk melamarnya kelak. Persaingan keduanya pun terjadi, dengan senjata masing-masing untuk meraih hati dari Uli.

Karena pekerjaan Moan harus kembali ke Jakarta dan meninggalkan persaingan dirinya dengan Binzar. Kembali dengan tidak membawa Uli, Paribannya sempat membuat kecewa Inang (panggilan ibu dalam tradisi Batak). Merasa perasaan sayang belum ada untuknya dari Uli, apalagi Uli memiliki pemikiran yang lebih terbuka, sebagai orang Batak yang bergelar S2.

Merasa sedikit putus asa, Moan mencoba melamar salah satu dari pacar-pacarnya demi menyenangkan Inangnya. Hal itu berubah candaan ketika Moan mengetahui bahwa keluarga Tulangnya datang berkunjung ke Jakarta.

Sayangnya kedatangan mereka bukan membawa kabar menggembirakan untuk Moan dan kedua orang tuanya. Uli justru membawa kabar bahwa dirinya akan dilamar oleh Binzar yang menjadi pesaingnya dalam 3 bulan kedepan. Tanpa sengaja mendengar perkataan Uli, Inang dari Moan mendadak pingsan.

Pariban: Idola Dari Tanah Jawa, Cerita Yang Tidak Utuh Batak

Film ini memang banyak yang beranggapan bukan Batak banget, karena cerita yang dihadirkan tidak terlalu menggambarkan kebudayaan Batak. Balik lagi dengan pernyataan dari Agustinus sebagai produser bahwa film ini tidak 100 persen mengambil kebudayaan Batak. Pertimbangannya untuk bisa diterima oleh semua orang yang bukan asli orang Batak. Tidak heran lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia dalam berdialog sesama pemain dan Jakarta sebagai salah satu lokasi shootingnya.

Terlebih cerita yang diangkat tentang pemuda yang lahir dilaur tanah Batak. Namun mencoba memperkenalkan Batak ke masyarakat di Indonesia, lokasi shooting untuk Pariban: Idola dari Tanah Jawa mengambil langsung di sekitar Danau Toba. Sekaligus memperlihatkan keindahan di sekitarnya dengan angle kamera yang pas. Yang membuat penonton ingin pergi kesana.

Untuk kalian yang sudah menonton filmnya pasti melihat beberapa scene dimana Uli hadir dalam kegiatan museum Batak. Dimana dalam scene tersebut para pemain pendukung membuat sebuah teater kecil tentang sejarah dan kebudayaan yang turun menurun dari leluhur terdahulu. Sekaligus memperlihatkan museum yang menyimpan sejarah tentang Batak itu sendiri.

Sejak awal film ini memang menawarkan drama komedi, tidak heran sepanjang film banyak scene yang membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Selain memang dari skenario yang mendukung, para cast dalam memerankan karakternya juga cukup berhasil.

Film ini cukup berani dengan menampilkan konsep bahwa karakter utamanya, Moan sekaligus menjadi narator untuk filmnya. Hal itu bisa dilihat sepanjang film, meski adegan yang sesuai skenario berjalan, namun Moan tetap bisa menyampaikan narasi.

Hal itu cukup berhasil dilakukan oleh sutradara film Pariban: Idola Dari Tanah Jawa, Andibachtiar Yusuf. Namun hal tersebut juga cukup berani, karena tidak mudah membuat salah satu karakter menyampaikan narasi cerita di tengah adegan. Selain harus ekspresif yang menggambarkan sekilas tentang karakter yang dimainkannya, lawan mainnya atau cerita dari film itu sendiri. Selain itu cut to cut dari hal tersebut juga harus pas agar tidak garing (komedi), karena masih dalam satu adegan yang sama. Bisa dikatakan harus dengan momen yang pas.

Selain itu, film ini sepertinya menggoda penonton bahwa akan kelanjutan atau sekuelnya. Hal tersebut di dukung adegan yang terakhir yang menggantung. Saat Uli menjelaskan bahwa dirinya di lamar oleh Binzar dan kemudian Inang dari Moan tiba-tiba pingsan. Ditambah dengan dialog Moan yang mengatakan “Tunggu 3 bulan lagi”. Jadi ditunggu saja sekuel dari film Pariban: Idola Dari Tanah Jawa.

(Sarah)

Komentarlah yang bijak

Related posts