Art/Gallery

Ajeng Ruangrupa: Persiapan Documenta Fifteen Sudah Capai 70 Persen

109
×

Ajeng Ruangrupa: Persiapan Documenta Fifteen Sudah Capai 70 Persen

Share this article
Ajeng Nurul Aini - Art Director Documenta Fifteen 2022 dalam sesi warung kopi Rabu (2/3) lalu

LASAK.iDDocumenta merupakan pameran seni tingkat dunia yang berbasis di Kassel, Jerman. Pameran ini diinisiasi oleh profesor seni dan desainer yang juga berasal dari Kassel bernama Arnold Bolde.  Documenta pertama kali digelar pada tahun 1955 yang berfokus dalam menampilkan karya seni kontemporer.

Selanjutnya, gelaran Documenta berlangsung setiap 5 tahun sekali. Meski memiliki rentang waktu yang lama, nyatanya Documenta menjadi satu dari sekian pameran kelas dunia di mana seniman dari berbagai negara menantikan untuk bisa ambil bagian. Bahkan untuk mereka yang sekedar mencinta karya seni kontemporer.

Di tahun 2022, Documenta kembali untuk edisi ke-15 yang berlangsung pada 18 Juni hingga 25 September mendatang. Gelaran kali ini cukup menarik perhatian, terlebih untuk Indonesia. Tak hanya para pelaku maupun pecinta seni itu sendiri tetapi juga orang awam di tanah air.

Terkait penunjukan ruangrupa, yang adalah kolektif seniman Indonesia berpengalaman sejak tahun 2000, untuk menjadi art director (pengarah artistik) di perhelatan Documenta Fifteen 2022. Penunjukan yang diumumkan langsung oleh komite seleksi internasional yang beranggotakan sekitar 8 orang pada 2019 lalu.

Ini menjadi kali pertama untuk kolektif seniman asal Indonesia bahkan Asia ditunjuk sebagai pengarah artistik untuk Documenta. Pencapaian luar biasa dan kebanggaan tersendiri untuk para kolektik seniman tanah air.

Jadi documenta ini punya mekanisme pemilihannya sendiri. Mereka ada komite pemilihan atau finder committee, kaya tim yang meriset atau mencari beberapa orang atau kolektif untuk di undang menjadi kandidat pengarah artistik. Kita di undang langsung ke Kassel untuk presentasi,” ungkap Ajeng Nurul Aini, Art Director Documenta Fifteen.

Setelah terpilih, dalam kurun waktu yang tersisa di 2019, ruangrupa memanfaatkan untuk mematangkan ide dan gagasan yang ingin mereka bangun untuk Documenta Fifteen. Baru di tahun 2020 atau tepatnya di bulan April Tim Artistik terkoneksi untuk bekerja secara virtual dari tempat yang berbeda, seperti Jakarta, Kassel, Amsterdam, Ramallah, Møn dan Makassar hingga hari ini.

Selanjutnya, ruangrupa melanjutkan bersama 14 kolektif dengan total 40 lebih seniman yang dipastikan berpartisipasi untuk menjadi bagian dari Lumbung, mulai aktif bergerak untuk membangun semangat yang sama dari sebelumnya namun dengan atmosfir yang berbeda.

Dalam konteks documenta fifteen itu ada sekitar 14 lumbung member dengan jumlah 40-an atau lebih seniman,” tambah Ajeng.

Ditemui pada sesi warung kopi, Rabu (2/3) lalu terkait seberapa besar keterlibatan kolektif yang tergabung Lumbung Indonesia dalam Documenta Fifteen. Ajeng mewakili ruangrupa dan Documenta Fifteen mengatakan meski tergabung dalam Lumbung Indonesia, tidak semua anggota Lumbung bisa ikut berpartisipasi secara total. Sebagian anggota lumbung tetap berkesempatan namun bukan menampilkan karya tetapi lebih menyajikan segmen diskusi.

Lumbung Indonesia sifatnya lebih presentasi atau talks di sana, bukan dalam bentuk karya tetapi lebih ke diskusi“, jelas Ajeng.

Terkait persiapannya sendiri, diungkap Ajeng proses produksi untuk on site dan off site saat ini hampir mencapai 70 persen untuk Documenta Fifteen.

Proses produksi ada yang on site, yang disiapkan di sini dan off site yang perlu diselesaikan di sana, seharusnya sudah mencapai 70 persen ya,” tegas Ajeng.

Tak sendiri, ruangrupa melibatkan Tim Artistik lainnya, seperti Gertrude Flentge, Frederikke Hansen, Lara Khaldi, Ayşe Güleç dan Andrea Linnenkohl. Melalui kerangka Documnta Fifteen, Tim Artistik menghubungi beragam kolektif, organisasi dan lembaga dari seluruh dunia untuk berkumpul serta mengembangkan Lumbung bersama-sama.

Setiap anggota Lumbung akan berkontribusi untuk memberi dan menerima berbagai sumber daya, seperti waktu, ruang, dana, pengetahuan, perhatian dan kesenian. Ini menjadi semangat ruangrupa karena bisa bekerja sama dan belajar dari konsep serta model-model regenerasi, pendidikan dan ekonomi dari lumbung-lumbung lain yang diterapkan di berbagai tempat di dunia.

Walau tak dipungkiri keterbatasan ruang gerak dari ruangrupa. tim artistik dan seniman kolektif lain yang menjadi bagian dari member Lumbung sempat dirasakan karena pandemi yang terjadi sejak awal 2020 hingga sekarang.