Anak Krakatau yang Lahir dan Terus Tumbuh
News

Anak Krakatau yang Lahir dan Terus Tumbuh 

Gunung Anak Krakatau saat berusia 2 tahun (dok. wikipedia)
Gunung Anak Krakatau saat berusia 2 tahun (dok. wikipedia)

LASAK.ID – Kisah tentang Gunung Anak Krakatau tak terlepas dari aktivitas sang ibu, Krakatau. Gunung yang menjadi salah satu primadona bagi para pendaki ini tak serta merta muncul begitu saja. Ia ada melalui sebuah peristiwa alam, yang konon turut mengubah peradaban dunia.

Mari mundur sejenak ke sekitar tahun 416 Masehi. Sebuah teks Jawa Kuno mencatat letusan Krakatau Purba yang diperkirakan berlangsung sekitar sepuluh hari. Letusan tersebut dianggap turut andil merubah peta peradaban dunia, seperti berakhirnya kejayaan Persia purba hingga punahnya kota Maya di Amerika.

Dunia kembali mencatat pada 27 Agustus 1883, Krakatau kembali meletus hingga menghancurkan 60% tubuh Krakatau di bagian tengah. Akibatnya terbentuklah lubang kaldera sepanjang 7 km dan menyisakan 3 pulau kecil, yaitu Pulau Rakata, Pulau Sertung dan Pulau Panjang. Ledakan Krakatau melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

43 tahun kemudian, dari kaldera purba yang masih aktif tersebut, lahirlah gunung baru dengan kecepatan pertumbuhan tinggi 20 inci per bulan. Kelahirannya diawali bunyi bergemuruh, lalu naiknya gelombang gas yang menyemburkan abu dan gas belerang. Jurnalis Simon Winchester dalam Krakatau: Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883 disebut sebagai indikasi pertama lahirnya gunung berapi baru jauh di dasar laut.

Ahli Geofisika asal Rusia W.A Petroeschevsky yang pertama kali meneliti kelahitan guung baru tersebut membangun sebuah bunker di Pulau Panjang. Ia memberinya nama yang hingga sekarang melekat: Anak Krakatau.

Petroeschevsky mencatat, pada 26 Januari 1928, volume gelembung dan nyala api berubah menjadi abu dan batu solid yang muncul ke permukaan berupa sebuah lapisan tipis daratan baru berbentuk kurva. Daratan baru itu tumbuh hitam dan seperti sabit hingga akhirnya membentuk sebuah pulau.

Sebagaimana sejarah yang menyertai keberadaannya, sebesar itu pula daya tariknya menjadi magnet bagi para penjelajah alam. Lokasinya yang berada di tengah lautan sehingga tidak hanya kemegahan gunung yang didapat, namun juga luasnya lautan. Bahkan, erupsinya pun menjadi fenomena alam yang indah dipandang mata.

(Sumber: Wikipedia, Historia)

Komentarlah yang bijak

Related posts